Lombok Barat, Jurnalekbis.com— Lahan yang sebelumnya terbengkalai di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, kini berubah menjadi kebun produktif. Kelompok Perempuan Kepala Rumah Tangga (PEKKA) memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam berbagai komoditas pangan sekaligus mengembangkan usaha yang menghasilkan pendapatan.
Cabai, tomat, terong, bakcoy hingga kacang panjang tumbuh di lahan yang sebelumnya nyaris tidak dimanfaatkan. Hasilnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi sebagian mulai dijual untuk menambah pemasukan kelompok.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lombok Barat, Afgan Kusumanegara, mengatakan PEKKA dipilih karena memiliki anggota cukup banyak dan dinilai mampu mengembangkan bantuan pemerintah secara mandiri.
“Mereka ini para perempuan kepala keluarga dan saya melihat mereka penuh inisiatif dan kreatif. Begitu kita kasih bantuan, mereka langsung kerjakan sesuai dengan arahan kami,” kata Afgan, 8 Agustus 2026.
Bantuan awal diberikan berupa bibit tanaman dan sarana pendukung. Dari bantuan tersebut, anggota kelompok mulai mengembangkan sejumlah tanaman pangan yang dinilai mudah dibudidayakan sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Menurut Afgan, pemanfaatan lahan kemudian diperluas melalui budidaya jamur berbahan dasar tongkol atau janggel jagung. Program tersebut sekaligus menghidupkan kembali keterampilan anggota yang sebelumnya pernah menjalankan usaha serupa.
“Pembuatan jamur janggel jagung juga kita support dengan memberikan gonggol jagung. Mereka sebenarnya sudah punya pengalaman, namun tidak bisa lagi memproduksi. Sekarang kita gerakkan lagi dan kita hidupkan lagi,” ujarnya.
Panen Tak Hanya untuk Konsumsi
Perubahan lahan tersebut mulai memberikan hasil nyata. Sayuran yang dipanen tidak seluruhnya dibawa pulang untuk kebutuhan keluarga. Sebagian dijual dan hasil penjualannya diputar kembali untuk membeli bibit.
Anggota Kelompok PEKKA, Sumarni, mengatakan sebelumnya lahan tersebut belum pernah dimanfaatkan secara optimal.
“Sebelumnya kita belum pernah tanam apa-apa di sini. Setelah dikasih bibit dan mulsa, kita mulai tanam. Hasilnya kita jual, kemudian uangnya kita beli bibit lagi untuk ditanam kembali,” kata Sumarni.
Pola tersebut membuat kegiatan bercocok tanam tidak berhenti pada satu kali panen. Pendapatan dari hasil penjualan dimanfaatkan sebagai modal untuk melanjutkan produksi berikutnya.
Selain sayuran, budidaya jamur janggel jagung juga mulai menemukan pasar. Produk tersebut dijual sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Sumarni menyebut permintaan masyarakat cukup tinggi. Bahkan, pesanan sudah datang ketika seluruh hasil produksi belum selesai dipanen.
“Banyak peminatnya. Sebelum kita panen semua, sudah banyak yang pesan,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan terbatas dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi apabila dikelola secara konsisten. Lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan kini mampu menyediakan pangan sekaligus membuka peluang pendapatan bagi keluarga anggota kelompok.
Target Menyebar ke Pekarangan Rumah
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tidak ingin program tersebut hanya berkembang di lahan kelompok. Pemanfaatan pekarangan rumah menjadi sasaran berikutnya.
Afgan menyebut jumlah anggota PEKKA di Lombok Barat mencapai sekitar 1.500 orang. Dengan jumlah tersebut, potensi pengembangan tanaman pangan di tingkat rumah tangga dinilai cukup besar.
Pemerintah mendorong anggota kelompok menanam komoditas sederhana seperti cabai, tomat dan berbagai sayuran di pekarangan masing-masing.
“Apa yang masih bisa kita tanam dan kita petik di halaman, kita tanam. Cabai, tomat, sayur-sayuran lainnya upayakan tanam di pekarangan. Buktinya bisa tumbuh, bisa menghasilkan uang, bukan sekadar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tapi juga bisa dijual,” kata Afgan.
Langkah tersebut dinilai dapat membantu rumah tangga mengurangi belanja pangan. Pada saat yang sama, hasil produksi berlebih dapat diarahkan menjadi sumber pendapatan tambahan.
Pemkab Lombok Barat juga menyiapkan peluang kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk menangani hasil produksi setelah panen. Pengolahan dan pemasaran menjadi bagian penting agar peningkatan produksi tidak berhenti di tingkat budidaya.
Bagi PEKKA, perubahan lahan terbengkalai menjadi kebun produktif menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti menghasilkan pangan.
Pemerintah berharap pola serupa dapat ditiru kelompok masyarakat lain. Pekarangan yang sempit sekalipun dinilai tetap memiliki peluang untuk ditanami komoditas pangan yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Dari lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan, kini tumbuh sayuran, jamur dan peluang ekonomi. Gerakan sederhana itu sekaligus memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari halaman rumah sendiri.













