UMKM Binaan BI Tembus Pasar New York

Mataram, Jurnalekbis.com— Produk kerajinan rotan dan ketak asal Lombok mulai membuka pasar Amerika Serikat. UMKM Bale Rattan Lombok mendapat sejumlah trial order dari buyer setelah mengikuti pameran di New York, Amerika Serikat, pada 2–4 Agustus 2026.

Owner Bale Rattan, Hartawaludin atau sering akrab dengan sebutan Awan, mengatakan pesanan awal datang dari sejumlah butik dan toko kecil di Amerika. Nilai transaksi sementara berkisar 500 hingga 1.000 dolar AS per pembeli.

Jika dikonversi menggunakan kisaran kurs Rp17.800 per dolar AS seperti yang disebut Hartawaludin, total pesanan awal diperkirakan mencapai sekitar Rp20 juta hingga Rp25 juta.

“Masih trial order. Ada beberapa perusahaan, perusahaan butik. Dia akan naruh barangnya di butik-butiknya, di toko-toko kecilnya,” kata Hartawaludin, Selasa (18/8).

Produk yang mendapat respons antara lain tas, placemat atau alas piring, nampan, serta kotak tisu berbahan rotan.

Produk ramah lingkungan jadi perhatian

Bale Ratan menjadi salah satu UMKM Indonesia yang terpilih mengikuti agenda promosi produk di New York melalui dukungan Bank Indonesia dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York.

Menurut Hartawaludin, proses kurasi tidak hanya melihat bentuk dan kualitas produk. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah konsep sustainable product, termasuk penggunaan material yang lebih ramah lingkungan serta peluang produk tersebut diterima pasar Amerika.

Bale Ratan sendiri fokus pada kerajinan berbahan rotan atau ketak, yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk kebutuhan rumah tangga dan dekorasi.

Baca Juga :  Konsumsi Energi Naik Saat Libur Isra Miraj, Pertamina Jamin Stok NTB

“Yang dikurasi salah satunya mengenai sustainable product, ramah lingkungan. Kemudian pasarnya di Amerika masuk atau tidak,” ujarnya.

Dalam pameran tersebut, Bale Ratan membawa sejumlah produk home decor, mulai dari kotak tisu, nampan, hiasan dinding hingga lampu berbahan rotan.

Pesanan pertama menjadi pintu pasar baru

Hartawaludin menyebut transaksi yang terjadi di New York masih merupakan tahap awal. Sejumlah calon pembeli masih berkomunikasi melalui surat elektronik dan proses negosiasi setelah pameran berakhir.

Barang pesanan pertama ditargetkan mulai dikirim sekitar satu hingga dua pekan setelah kegiatan.

Menurut dia, peluang terbesar justru berada pada tindak lanjut dengan para buyer yang ditemui selama pameran.

“Masih email, masih negosiasi sama buyer yang pernah kami jumpai di Amerika,” katanya.

Ia berharap komunikasi tersebut berkembang menjadi transaksi dalam jumlah lebih besar. Target Bale Ratan berikutnya bahkan menyasar pesanan hingga satu atau dua kontainer.

“Mudah-mudahan di buyer-buyer yang pernah kami kontak, yang pernah kami tukaran kartu nama bisa deal di mungkin satu-dua kontainer,” ujar Hartawaludin.

Delapan hari di Amerika

Kegiatan utama berlangsung selama tiga hari, yakni 2–4 Agustus 2026. Namun, Bale Ratan berada di Amerika lebih lama untuk menyiapkan dan menata produk sebelum pameran.

Secara keseluruhan, perjalanan dan kegiatan berlangsung sekitar tujuh hingga delapan hari.

Baca Juga :  Wagub NTB Tampil di IFW 2026, Tenun Lokal Bidik Pasar Nasional

Hartawaludin mengatakan keberangkatan tersebut mendapat dukungan pembiayaan dari Bank Indonesia, termasuk Bank Indonesia di tingkat pusat dan wilayah NTB.

Bagi Bale Ratan, kesempatan tersebut bukan sekadar mengikuti pameran. Respons langsung dari calon pembeli menjadi indikator bahwa produk kerajinan Lombok memiliki peluang untuk masuk ke pasar global.

Membidik Inggris hingga Jerman

Amerika Serikat bukan satu-satunya pasar luar negeri yang dibidik Bale Ratan. Hartawaludin mengatakan produknya sebelumnya juga pernah mendapat dukungan untuk menjangkau pasar Inggris dan Hungaria.

Ke depan, mereka berharap bisa mengikuti pameran kerajinan berskala internasional di Jerman, termasuk Ambiente, salah satu ajang perdagangan produk konsumen dan desain yang menjadi perhatian pelaku industri kreatif global.

“Kemudian ke Hungaria. Mudah-mudahan salah satu pameran kerajinan terbesar di dunia, Ambiente di Jerman, ada. Mudah-mudahan kami di-support ke depannya sama Bank Indonesia atau kementerian-kementerian yang lain,” katanya.

Target tersebut menunjukkan bahwa Bale Rattan tidak ingin berhenti pada transaksi awal di Amerika. Pameran di New York diharapkan menjadi pijakan untuk memperluas jaringan distribusi dan memperkenalkan kerajinan Lombok kepada pembeli internasional.

Berharap UMKM Lombok semakin mendunia

Hartawaludin menilai dukungan terhadap UMKM lokal perlu terus diperluas agar produk Indonesia memiliki lebih banyak kesempatan bertemu pembeli global.

Ia berharap pengalaman Bale Rattan di New York dapat diikuti pelaku UMKM lainnya, terutama dari Lombok dan daerah lain di Indonesia.

Baca Juga :  Bimtek Fashion Designer Berbasis Tenun

“Harapan ke depan mudah-mudahan Lombok, Indonesia lebih mendunia, terutama teman-teman UMKM di seluruh Indonesia, bukan hanya kami di Lombok,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kondisi di Amerika setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Hartawaludin mengatakan tidak merasakan dampak langsung selama berada di New York.

Selama sekitar lima hingga enam hari menjalankan aktivitas di kota tersebut, ia menyebut kegiatan masyarakat berlangsung relatif normal.

Bagi Bale Rattan, hasil pameran di New York kini menjadi pekerjaan lanjutan. Pesanan awal senilai sekitar Rp20 juta–Rp25 juta menjadi langkah pertama, sementara peluang transaksi berikutnya masih terbuka melalui komunikasi dengan para buyer yang telah ditemui.

Jika negosiasi berkembang menjadi pembelian dalam skala besar, produk rotan dan ketak dari Lombok berpeluang tidak lagi sekadar menjadi komoditas kerajinan lokal, tetapi masuk ke rantai pasar dekorasi rumah dan ritel internasional.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *