Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama perbankan NTB turun langsung membantu masyarakat Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, yang terdampak kebakaran.
Bantuan kemanusiaan disalurkan pada Minggu (30/8/2026), tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan warga, tetapi juga menyentuh kondisi psikologis anak-anak yang berada di posko pengungsian.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan edukasi dan trauma healing. Anak-anak diajak bermain, belajar, mendengarkan dongeng, hingga menikmati pertunjukan sulap untuk mengembalikan suasana ceria setelah mengalami musibah kebakaran.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian keluarga besar BI bersama perbankan terhadap masyarakat Sade yang sedang menjalani masa pemulihan.
Penyerahan bantuan BI secara simbolis dilakukan Hario, didampingi perwakilan Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) dan Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI), kepada Endap, Kepala Dusun Sade I yang mewakili masyarakat Desa Adat Sade.
“Penyerahan dilakukan sebagai dukungan dan kepedulian Keluarga Besar BI di seluruh Indonesia terhadap masyarakat yang tengah menjalani masa pemulihan pascabencana,” kata Hario.
Bantuan itu merupakan hasil kolaborasi berbagai unsur keluarga besar BI. Di antaranya BI NTB, Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) NTB, IPEBI Kantor Pusat dan kantor perwakilan BI di Indonesia, Persatuan Pensiunan Bank Indonesia (PPBI), PIPEBI, serta Generasi Baru Indonesia (GenBI) NTB.
Di sisi lain, BMPD NTB turut menyerahkan bantuan dari perbankan NTB berupa sejumlah peralatan sekolah untuk anak-anak.
Peralatan tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat terdampak. Bantuan diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung anak-anak kembali menjalani aktivitas belajar setelah kebakaran.
Namun, perhatian dalam kegiatan itu tidak berhenti pada bantuan material.
Anak-anak di posko Desa Adat Sade mendapat ruang khusus untuk bermain dan belajar melalui rangkaian kegiatan edukatif. Salah satunya edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah yang dikemas melalui kegiatan mendongeng.
Materi tentang Rupiah disampaikan dengan pendekatan sederhana dan interaktif agar mudah dipahami anak-anak.
Setelah sesi mendongeng, anak-anak mengikuti sejumlah permainan edukatif, seperti puzzle Rupiah dan kuis interaktif.
Suasana kemudian dibuat semakin cair melalui penampilan pesulap. Hiburan tersebut menjadi bagian dari trauma healing agar anak-anak dapat sejenak melupakan situasi sulit yang mereka alami akibat kebakaran.
Keterlibatan GenBI NTB juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Komunitas mahasiswa penerima beasiswa BI itu ikut membantu proses penyaluran bantuan serta mendampingi pelaksanaan edukasi dan trauma healing. Kehadiran mahasiswa menjadi bentuk keterlibatan generasi muda dalam aksi kemanusiaan di tengah masyarakat.
Bagi warga yang terdampak, masa setelah kebakaran bukan sekadar persoalan membangun kembali tempat tinggal atau memenuhi kebutuhan material. Anak-anak juga membutuhkan ruang aman untuk kembali bermain, belajar, dan berinteraksi.
Karena itu, kegiatan di posko Sade diarahkan tidak hanya pada pemberian bantuan, tetapi juga menciptakan suasana yang dapat membantu anak-anak melewati masa pemulihan.
Kolaborasi BI NTB, perbankan, organisasi internal BI, dan GenBI tersebut memperlihatkan bahwa penanganan pascabencana membutuhkan lebih dari satu bentuk bantuan.
Kebutuhan warga dipenuhi melalui dukungan material, sementara anak-anak mendapat pendampingan melalui aktivitas edukatif dan hiburan.
Hario berharap sinergi tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat Desa Adat Sade sekaligus mendukung proses pemulihan setelah musibah.
“Melalui sinergi Bank Indonesia dan BMPD NTB, kegiatan ini diharapkan dapat meringankan kebutuhan masyarakat Desa Adat Sade sekaligus memberikan dukungan bagi anak-anak yang terdampak,” ujarnya.
Kebakaran yang menimpa kawasan Desa Adat Sade sebelumnya mengguncang masyarakat di salah satu destinasi budaya penting Lombok tersebut. Kini, setelah masa tanggap darurat berlalu, perhatian mulai diarahkan pada pemulihan warga dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Dukungan berbagai pihak menjadi bagian dari proses tersebut. Bagi anak-anak, kehadiran orang dewasa yang datang untuk membantu, mengajak bermain, dan kembali menghadirkan tawa menjadi bagian kecil namun penting dari perjalanan mereka untuk bangkit.
Di tengah sisa-sisa musibah, semangat gotong royong pun kembali menjadi kekuatan warga Sade untuk menatap masa pemulihan.













