LOMBOK TENGAH, Jurnalekbis.com — Kepedulian terhadap warga terdampak kebakaran Rumah Adat Sasak Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, ditunjukkan DPW Partai Amanat Nasional (PAN) NTB.
Dalam rangka memperingati Hari Jadi PAN ke-28 tahun, Sekretaris dan Bendahara DPW PAN NTB bersama PUAN DPW PAN NTB menyalurkan bantuan sosial berupa sembako kepada warga yang terdampak musibah kebakaran.
Bantuan tersebut diserahkan sebagai bentuk solidaritas sekaligus dukungan moral bagi masyarakat Sade yang tengah menghadapi dampak kebakaran.
Sekretaris DPW PAN NTB Adi Mahyudi mengatakan, bantuan yang diberikan memang tidak besar. Namun, menurut dia, langkah tersebut merupakan bentuk kepedulian PAN NTB terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah.
“Sedikit dari kami sebagai bentuk kepedulian dari Partai Amanat Nasional Provinsi Nusa Tenggara Barat terhadap musibah yang menimpa keluarga kita, saudara kita yang ada di Desa Sade ini,” kata Adi Mahyudi.
Ia berharap bantuan berupa kebutuhan pokok tersebut dapat memberikan manfaat bagi warga, terutama di tengah kondisi pascakebakaran yang masih membutuhkan perhatian dan penanganan.
Adi juga menyampaikan pesan agar para korban tetap tabah menghadapi musibah yang menimpa kawasan permukiman adat tersebut.
“Semoga bermanfaat untuk para korban. Lebih tabah menghadapi musibah yang sangat berat ini,” ujarnya.
Dorong Pemulihan Rumah Adat Sade
Selain memberikan bantuan langsung kepada warga, PAN NTB juga mendorong pemerintah bergerak cepat dalam proses pemulihan kawasan Rumah Adat Sasak Sade.
Bendahara DPW PAN NTB Hasbullah Muiz mengatakan, langkah pemulihan perlu direncanakan secara matang agar kawasan adat yang menjadi salah satu ikon pariwisata Lombok tersebut dapat kembali berfungsi.
Menurutnya, pemerintah perlu segera menyusun rencana pemulihan atau recovery, termasuk menentukan konsep pembangunan kembali rumah-rumah yang terdampak.
“Kita berharap pertama, pemerintah bisa segera merencanakan, merecovery, dan bisa memulihkan kembali seperti sedia kala,” kata Hasbullah.
Ia memahami bahwa proses pemulihan kemungkinan tidak sepenuhnya mengembalikan kondisi bangunan seperti sebelum kebakaran. Namun, percepatan penanganan dinilai penting agar kehidupan masyarakat dapat segera kembali berjalan.
Hasbullah menilai pembangunan kembali nantinya tetap perlu memperhatikan karakter arsitektur dan nilai budaya yang melekat pada Rumah Adat Sasak Sade.
Ia tidak ingin proses rekonstruksi menghilangkan identitas kawasan tersebut hanya karena bangunan dibuat dengan desain baru.
“Meskipun dalam bentuk yang baru, desain yang baru, tapi tidak menghilangkan nilai-nilai estetika dari sejarah keberadaan Desa Adat Sade ini sendiri,” ujarnya.
Sade Bukan Sekadar Kawasan Wisata
Bagi Hasbullah, Sade memiliki posisi penting karena tidak hanya menjadi kawasan permukiman masyarakat adat, tetapi juga bagian dari identitas budaya Sasak dan destinasi wisata yang dikenal luas.
Karena itu, pemulihan pascakebakaran dinilai membutuhkan perhatian bersama, baik dari pemerintah maupun berbagai elemen masyarakat.
“Bagaimanapun Desa Sade ini, Desa Adat ini punya historis tersendiri dan sudah mendunia,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat mempercepat langkah pemulihan dengan tetap melibatkan masyarakat adat dalam proses perencanaan. Pendekatan tersebut penting agar pembangunan tidak sekadar mengejar pemulihan fisik, tetapi juga menjaga nilai budaya yang menjadi kekuatan utama Sade.
Musibah kebakaran di Rumah Adat Sasak Sade menjadi perhatian karena kawasan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga berpotensi memengaruhi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan sektor pariwisata.
Penyaluran bantuan PAN NTB menjadi salah satu bentuk dukungan awal bagi warga terdampak. Di sisi lain, dorongan terhadap percepatan recovery menunjukkan bahwa penanganan pascakebakaran membutuhkan langkah yang lebih panjang dan terukur.
Pemulihan Sade pada akhirnya bukan hanya soal membangun kembali bangunan yang rusak. Lebih dari itu, proses tersebut menyangkut upaya mempertahankan identitas, sejarah, estetika, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat adat Sasak di tengah perkembangan pariwisata Lombok.













