Dari 100 Jadi 353, Proposal Riset NTB Melonjak

Dari 100 Jadi 353, Proposal Riset NTB Melonjak

Lombok Barat, Jurnalekbis.com — Sayembara Riset dan Inovasi Daerah NTB 2026 menerima sekitar 353 proposal hingga penutupan pengunggahan pada 31 Agustus. Jumlah tersebut melonjak lebih dari tiga kali lipat dari perkiraan awal yang hanya sekitar 100 proposal.

Besarnya partisipasi membuat proses seleksi administrasi diperpanjang hingga Kamis, (3/9/2026) . Keputusan itu disepakati dalam rapat pembahasan evaluasi tahap I pada Selasa (1/9/2026).

Pemerintah Provinsi NTB melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) memilih memisahkan pemeriksaan administratif dari penilaian substansi. Pemisahan tersebut dilakukan agar proposal yang lolos persyaratan dasar tidak langsung disamakan dengan gagasan yang memiliki kualitas dan potensi pengembangan.

Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, mengatakan seleksi diarahkan bukan sekadar mencari proposal dengan nilai terbaik.

Menurut dia, proses tersebut juga menjadi pintu untuk menemukan gagasan yang bisa dikembangkan menjadi riset terapan, diterapkan di lapangan, serta masuk tahap pendampingan dan inkubasi.

Baca Juga :  Penghargaan Siddhakarya 2024: Menginspirasi Inovasi di NTB

Pada tahap administrasi, panitia tidak memberikan skor. Pemeriksaan dilakukan menggunakan sistem checklist untuk memastikan setiap proposal memenuhi persyaratan wajib.

Aspek yang diperiksa mencakup usia pengusul, identitas, legalitas institusi, kelengkapan dokumen, pernyataan orisinalitas atau plagiasi, hingga kesesuaian dengan tema prioritas sayembara.

Proposal yang tidak memenuhi ketentuan wajib akan dinyatakan gugur pada tahap tersebut.

Sekretariat kemudian merekap hasil pemeriksaan masing-masing tim melalui formulir yang telah disepakati. Setiap proposal dicatat secara terpisah sehingga status kelengkapannya dapat ditelusuri dan menjadi dasar penyusunan database peserta yang lolos maupun tidak lolos.

Seleksi berikutnya akan berbeda. Proposal yang memenuhi persyaratan administrasi akan masuk penilaian substansi dengan sistem skoring.

Di tahap ini, tim akan menguji kualitas gagasan secara lebih mendalam, mulai dari persoalan yang diteliti, alasan penelitian penting dilakukan, kapasitas pelaksana, lokasi dan waktu penelitian, hingga kemungkinan hasilnya diterapkan.

Baca Juga :  ITDC Gandeng Polda NTB Amankan GT World dan MotoGP Mandalika 2026

Potensi inovasi dan dampak juga menjadi perhatian. Riset tidak cukup hanya menawarkan gagasan baru, tetapi harus memiliki hubungan dengan persoalan pembangunan daerah.

Riset pertanian, misalnya, diharapkan dapat menunjukkan kontribusi terhadap ketahanan pangan, peningkatan ekonomi masyarakat, atau pengurangan kemiskinan.

Arah tersebut sejalan dengan dorongan Pemerintah Provinsi NTB agar hasil riset tidak berhenti dalam bentuk laporan. Gagasan yang memiliki prospek akan diarahkan untuk memperoleh pendampingan, pengembangan, hingga inkubasi melalui konsep Rumah Inovasi Nasional.

Agenda ini juga ditempatkan dalam konteks prioritas pembangunan NTB, termasuk pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pengembangan sektor pariwisata.

Dengan masuknya 353 proposal, sayembara tahun ini sekaligus memperlihatkan besarnya potensi peneliti daerah, terutama generasi muda. Respons publik di berbagai platform media sosial turut menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap riset dan inovasi.

Baca Juga :  118 Pejabat Fungsional NTB Dilantik, Sekda: Jadilah Pemberi Solusi

Setelah seleksi administrasi berakhir, tim akan menyusun database proposal yang memenuhi persyaratan. Tahap selanjutnya adalah menetapkan kriteria serta bobot penilaian substansi sebelum menentukan gagasan yang paling layak dikembangkan.

Dari ratusan proposal tersebut, tantangan BRIDA kini bukan sekadar memilih pemenang. Yang lebih penting adalah memastikan gagasan terpilih mampu keluar dari dokumen penelitian dan berubah menjadi inovasi yang benar-benar diterapkan serta memberi manfaat bagi masyarakat NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *