Lombok Tengah, Jurnalekbis.com — Persoalan keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah di Desa Aik Bukaq, Lombok Tengah, mendorong mahasiswa B3KL IAIQH Kelompok 2 menghadirkan solusi berbasis teknologi tepat guna.
Mereka membuat sebuah incinerator yang kemudian diserahkan kepada Pondok Pesantren Almansyurati di Dusun Seganteng Uluh, Desa Aik Bukaq. Alat tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sampah di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.
Ketua Kelompok B3KL IAIQH Kelompok 2, Lalu Azan Apriandi, mengatakan gagasan pembuatan incinerator muncul setelah mahasiswa melihat langsung kondisi pengelolaan sampah selama menjalankan kegiatan pengabdian di Desa Aik Bukaq.
Menurutnya, keterbatasan sarana menjadi salah satu persoalan yang cukup menonjol. Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa tidak hanya melakukan kegiatan pengabdian secara konvensional, tetapi mencoba menghasilkan karya yang bisa digunakan setelah program mereka berakhir.
“Program ini lahir dari hasil observasi terhadap kondisi lingkungan Desa Aik Bukaq selama pelaksanaan kegiatan pengabdian,” kata Lalu Azan Apriandi, Jumat (4/9).
Ia menjelaskan, persoalan sampah membutuhkan penanganan yang tidak berhenti pada kegiatan membersihkan lingkungan. Ketersediaan fasilitas pengelolaan juga menjadi bagian penting agar sampah dapat ditangani secara lebih terarah.
Karena itu, kelompoknya memilih membuat incinerator sebagai salah satu alternatif teknologi yang dapat digunakan di lokasi tersebut.
Alat itu kemudian ditempatkan dan diserahkan kepada Pondok Pesantren Almansyurati. Pemilihan lokasi tersebut diharapkan membuat hasil karya mahasiswa dapat dimanfaatkan secara langsung sekaligus menjadi contoh bagi lingkungan sekitar.
Lalu Azan mengatakan pembuatan incinerator tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan sebuah benda fisik. Lebih dari itu, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa persoalan yang ditemukan selama pengabdian dapat direspons melalui inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
“Harapannya, karya ini tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga bisa menjadi contoh dan dikembangkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Berawal dari Kondisi Lapangan
Sebelum membuat alat tersebut, mahasiswa B3KL IAIQH Kelompok 2 melakukan pengamatan terhadap kondisi lingkungan selama berada di Desa Aik Bukaq.
Dari pengamatan itu, keterbatasan fasilitas pembuangan dan pengelolaan sampah menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian.
Masalah tersebut kemudian dibawa ke dalam pembahasan kelompok untuk mencari bentuk solusi yang memungkinkan diterapkan di tingkat desa.
Pilihan akhirnya mengarah pada pembuatan incinerator. Teknologi tersebut dipandang sebagai salah satu sarana yang dapat membantu pengelolaan sampah di lokasi yang fasilitasnya masih terbatas.
Namun, keberadaan alat saja tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Pengelolaan tetap membutuhkan pemilahan, penggunaan yang tepat, serta perhatian terhadap dampak lingkungan dan keselamatan.
Karena itu, pemanfaatan incinerator perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah, bukan satu-satunya cara menyelesaikan persoalan sampah di desa.
Tinggalkan Karya, Bukan Sekadar Kegiatan
Bagi mahasiswa, keberadaan incinerator menjadi bagian dari upaya meninggalkan hasil nyata selama menjalankan program pengabdian.
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat yang mereka usung, yakni “Pelestarian Alam dalam Bingkai Pengabdian.”
Melalui konsep itu, kegiatan B3KL tidak hanya diarahkan pada kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat, tetapi juga pada upaya mengenali persoalan yang benar-benar dihadapi warga.
Dari persoalan tersebut, mahasiswa kemudian mencoba menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam jangka lebih panjang.
Penyerahan incinerator kepada Pondok Pesantren Almansyurati menjadi salah satu bentuk konkret dari pendekatan tersebut.
Karya itu kini berada di lingkungan yang diharapkan dapat menjadi titik awal pemanfaatan teknologi pengelolaan sampah secara lebih terarah.
Di sisi lain, persoalan sampah di Desa Aik Bukaq tetap membutuhkan dukungan berbagai pihak. Fasilitas, kesadaran masyarakat, pemilahan dari sumber, hingga pengelolaan setelah sampah dikumpulkan menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
B3KL IAIQH Kelompok 2 berharap inovasi yang mereka tinggalkan tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Incinerator tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan, dirawat, serta dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Bagi kelompok mahasiswa itu, pengabdian bukan sekadar menjalankan program dalam waktu tertentu. Pengabdian juga berarti menemukan persoalan di lapangan, mengupayakan solusi, kemudian meninggalkan sesuatu yang tetap memiliki manfaat ketika mahasiswa telah kembali meninggalkan desa.













