Jurnalekbis– Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan pelaksanaan 10 angkatan pelatihan ekonomi kreatif melalui program Ekraf Mania sepanjang tahun ini. Pelatihan tersebut mengusung tema berbeda dan menyasar pelaku ekonomi kreatif dari berbagai kabupaten/kota di NTB.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB Ahmad Nur Aulia mengatakan, hingga saat ini program Ekraf Mania telah memasuki lima batch. Pemerintah daerah akan menambah jumlah pelatihan untuk memperluas akses masyarakat terhadap peluang ekonomi kreatif, terutama di tengah perkembangan digitalisasi.
“Alhamdulillah, kita sudah melaksanakan 5 batch. Insyaallah tahun ini kita akan laksanakan selama 10 angkatan, dengan tema yang berbeda-beda,” kata Ahmad Nur Aulia, Jumat (18/9).
Menurutnya, program tersebut mengawali pelatihan dengan fokus pada digitalisasi. Materinya mencakup cara membuat dan menjual produk digital, microstock, bisnis creative agency hingga klipper.
Peserta juga tidak dibebankan biaya. Pemerintah Provinsi NTB menyediakan pelatihan tersebut secara gratis sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pelaku ekonomi kreatif.
Ahmad menjelaskan, pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyelenggara program. Pemprov NTB ingin mengambil posisi sebagai fasilitator, regulator sekaligus akselerator bagi perkembangan ekonomi kreatif.
Ia menilai kebutuhan pelaku ekonomi kreatif tidak bisa ditentukan sepihak dari pemerintah. Karena itu, pemerintah perlu mendengar langsung persoalan yang mereka hadapi, termasuk kebutuhan, target dan hambatan dalam mengembangkan usaha.
“Yang tahu apa yang menjadi target, apa yang menjadi kendala, apa yang menjadi harapan itu adalah para pelaku dan pegiat ekonomi kreatif sendiri,” ujarnya.
Program Ekraf Mania juga tidak hanya menyasar pelaku dari tingkat provinsi. Peserta berasal dari berbagai kabupaten dan kota di NTB. Kondisi tersebut sekaligus menjadi upaya Pemprov NTB untuk mendorong pengembangan ekonomi kreatif secara lebih merata.
Ahmad menyebut ekonomi kreatif selama ini seperti “hidden gem” karena potensinya belum selalu terlihat dalam program pembangunan daerah. Kini, Pemprov NTB menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu program unggulan.
Dukungan pemerintah kabupaten dan kota turut diperlukan agar pengembangan sektor tersebut tidak berjalan sendiri. Kolaborasi antardaerah dinilai penting karena ekosistem ekonomi kreatif mencakup banyak subsektor dan pelaku dengan kebutuhan yang berbeda.
Ahmad berharap masyarakat semakin memahami besarnya peluang ekonomi kreatif di era digital. Pelaku usaha, khususnya generasi yang mampu memanfaatkan teknologi, memiliki ruang lebih luas untuk menciptakan produk sekaligus memasarkannya ke pasar yang lebih besar.
“Peluang atau potensi ekonomi kreatif di era saat ini memang sangat terbuka lebar. Harapannya ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kita,” katanya.
Pemprov NTB selanjutnya akan mengembangkan materi pelatihan sesuai kebutuhan pelaku ekonomi kreatif. Pemerintah juga membuka ruang untuk mencari solusi atas kendala yang muncul dalam proses pengembangan usaha kreatif di daerah.












