Tangis Histeris Sambut Jenazah Korban Pembacokan Udayana

Tangis Histeris Sambut Jenazah Korban Pembacokan Udayana
Tangis Histeris Sambut Jenazah Korban Pembacokan Udayana
Materi Iklan FINAL 2026

Mataram – Muhammad Gibran, satu dari tiga korban pembacokan di Jalan Udayana, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis di RSUD Kota Mataram. Kedatangan jenazah korban di rumah duka, Lingkungan Melayu Timur, Kecamatan Ampenan, disambut tangis histeris keluarga.

Kepergian Gibran menambah duka keluarga sekaligus memicu desakan agar polisi mengusut tuntas kasus pembacokan yang menyebabkan tiga remaja menjadi korban tersebut.

Hasyumal Jaidi, kerabat korban, meminta aparat kepolisian segera mengidentifikasi dan menindak tegas seluruh pihak yang terlibat dalam aksi kekerasan tersebut, termasuk mereka yang diduga memiliki keterkaitan dengan kelompok gangster.

“Kami berharap kepada pihak kepolisian agar segera ditindak dan segera diusut. Bila perlu, agak disampingkan dulu untuk di bawah umur, karena ini sudah sangat lewat batas sampai menghilangkan nyawa,” kata Hasyumal.

Menurutnya, aksi kekerasan yang berujung hilangnya nyawa seseorang tidak bisa dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. Ia menilai aparat perlu mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat.

“Kami selaku masyarakat sangat prihatin juga dengan kelakuan anak-anak muda sekarang. Karena dari level kenakalannya pun sudah lewat batas dan tidak bisa ditolerir,” ujarnya.

Selain mendesak kepolisian, Hasyumal meminta pemerintah daerah lebih serius memperhatikan keamanan masyarakat, terutama pada malam hari.

Ia menilai masyarakat yang bekerja hingga larut malam, pulang kerja, atau mencari nafkah di jalanan berisiko menjadi korban kekerasan. Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya menyasar orang yang memiliki persoalan dengan kelompok tertentu, tetapi juga warga yang tidak mengenal para pelaku.

Hasyumal pun meminta pejabat pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan, tetapi turun langsung untuk melihat kondisi keamanan di lapangan.

“Kalau bisa bapak-bapak jangan cuma duduk di atas kursi yang di ruangan ber-AC, Pak. Sekali-kali turun ke jalanan, sekali-kali turun, lihat kondisi di jalanan seperti apa,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa situasi di lapangan bisa berbeda dengan laporan yang diterima pemerintah. Karena itu, menurutnya, langkah pencegahan perlu melibatkan pengawasan langsung dan respons yang cepat terhadap potensi aksi kekerasan.

“Di luaran ini tidak seperti yang dilaporkan, Pak. Dia lebih mengerikan nih jalanan ini, Pak. Random bahkan orang tidak dikenal yang jadi sasaran,” katanya.

Hasyumal juga menyoroti risiko yang dihadapi warga yang harus beraktivitas pada malam hari. Mereka, kata dia, tetap harus bekerja, mencari penghasilan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari meski situasi keamanan membuat masyarakat khawatir.

Ia berharap pemerintah bersama kepolisian meningkatkan upaya pencegahan dan penindakan terhadap aksi kekerasan jalanan, termasuk dugaan keterlibatan kelompok gangster.

Materi Iklan FINAL 2026

“Orang-orang yang cari nafkah malam-malam, ataupun yang kerja malam, ataupun yang pulang kerja malam-malam, dan mungkin ada yang kelaparan di tengah malam, itu yang menjadi target empuk dari keberingasan gangster ini,” ungkapnya.

Kematian Muhammad Gibran menjadi perhatian serius bagi keluarga dan masyarakat. Mereka berharap aparat segera mengungkap perkara tersebut, memproses pihak-pihak yang terbukti terlibat sesuai hukum, serta memastikan keamanan warga di Kota Mataram.

Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan resmi yang disertakan mengenai perkembangan terbaru penyelidikan, identitas terduga pelaku, maupun penetapan tersangka dalam kasus tersebut.

Keterangan resmi kepolisian mengenai kronologi lengkap dan perkembangan penanganan perkara masih diperlukan untuk memberikan gambaran menyeluruh atas peristiwa yang menewaskan Gibran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *