Lombok Tengah – Kecintaan terhadap dunia balap motor membuat CEO Pride Motorsport, Edi Saputra, rela merogoh kocek pribadi hingga miliaran rupiah demi menjaga keberlangsungan kejuaraan nasional balap motor di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Edi mengungkapkan, perjalanan membangun kejuaraan yang kini dikenal sebagai Pertamina Mandalika Racing Series tidak selalu berjalan mulus. Pada awal penyelenggaraan, dia harus menanggung sebagian besar biaya operasional karena minimnya dukungan sponsor.
Bahkan, biaya penyelenggaraan setiap event pada tahun pertama mencapai sekitar Rp1,2 miliar. Kondisi tersebut berlangsung selama satu setengah tahun, ketika dukungan sponsor masih sangat terbatas.
“Di tahun pertama biaya penyelenggaraannya enggak lebih dari Rp1,2 miliar per event. Dan itu berjalan sampai satu tahun setengah tanpa sponsor,” ungkap Edi Saputra.
Dia mengaku tetap mempertahankan kejuaraan tersebut meski harus menghadapi risiko kerugian finansial. Baginya, keberlangsungan kompetisi jauh lebih penting untuk membuka jalan bagi pembalap muda Indonesia agar mampu menembus persaingan internasional.
Edi menjelaskan, gagasan menyelenggarakan kejuaraan nasional tersebut berawal ketika dirinya masih berada di jajaran Deputi Ikatan Motor Indonesia (IMI). Saat itu, federasi memiliki kewajiban menyelenggarakan kompetisi balap nasional.
Dia kemudian mengambil inisiatif menggelar kejuaraan di Sirkuit Mandalika melalui kerja sama dengan Donny, selaku pihak pengelola sirkuit.
“Saya jalankan demi menciptakan pembalap-pembalap muda Indonesia. Makanya sekarang kita bisa melihat pembalap Indonesia hadir di kelas-kelas MotoGP,” katanya.
Menurut Edi, persoalan biaya masih menjadi tantangan terbesar dalam mengembangkan olahraga balap motor nasional. Tingginya kebutuhan operasional membuat penyelenggara membutuhkan dukungan sponsor dan berbagai pihak agar kompetisi dapat terus berjalan.
Meski demikian, dia mengaku tidak ingin berhenti. Edi bahkan menyebut kecintaannya terhadap balap motor menjadi alasan utama untuk terus mempertahankan kejuaraan tersebut.
Perjalanan Pride Motorsport juga tidak terlepas dari latar belakang Edi yang pernah memiliki tim balap sendiri. Meski tidak berhasil menjadi pembalap profesional papan atas, pengalaman tersebut membentuk kecintaannya terhadap dunia motorsport hingga akhirnya mengembangkan bisnis penyelenggaraan balap.
Dia bersyukur kompetisi yang awalnya berjalan dengan keterbatasan kini menunjukkan perkembangan. Jumlah kelas pertandingan dan peserta terus bertambah.
Salah satu perubahan penting terjadi ketika kejuaraan tersebut mulai menggunakan nama Pertamina Mandalika Racing Series pada tahun kedua penyelenggaraan.
Edi juga menilai kehadiran sistem siaran televisi menjadi salah satu faktor penting yang mempercepat pertumbuhan kompetisi. Tayangan balapan membuat kejuaraan memiliki jangkauan penonton lebih luas sekaligus meningkatkan daya tarik bagi sponsor.
“Dengan adanya TV, tiba-tiba growing-nya itu sangat cepat dan sponsor juga banyak yang masuk,” jelasnya.
Bagi Edi, Pertamina Mandalika Racing Series bukan sekadar agenda kompetisi di lintasan. Kejuaraan ini menjadi salah satu ruang pembinaan bagi pembalap nasional untuk mengasah kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan balap internasional.
Dia berharap keberlanjutan kompetisi tersebut mendapat dukungan lebih luas, terutama dari sponsor dan industri otomotif, sehingga semakin banyak talenta muda Indonesia memiliki kesempatan untuk berkembang dan mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.












