Mataram – Bank Indonesia (BI) mengajak generasi muda memperkuat kecintaan terhadap Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa melalui kegiatan Rupiah dan Pahlawan (RUPAWAN) 2026 di Auditorium M. Yusuf Abubakar, Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mengusung tema Rupiah dan Pahlawan, Semangat Pahlawan dalam Diri, Kedaulatan Rupiah untuk Negeri, kegiatan ini menekankan pentingnya mengenali, merawat, dan menggunakan Rupiah sebagai bentuk penghargaan terhadap identitas serta perjuangan bangsa.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, menegaskan bahwa menjaga Rupiah bukan hanya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia. Keterlibatan pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat juga diperlukan agar edukasi kecintaan terhadap mata uang nasional semakin luas.
Menurut Hario, penguatan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah harus melibatkan berbagai elemen masyarakat, terutama generasi muda yang memiliki posisi strategis sebagai agen edukasi di lingkungan masing-masing.
“Upaya menjaga Rupiah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan uang layak edar, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk mengenali, merawat, dan menggunakan Rupiah secara bijak,” demikian pesan yang disampaikan dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Kegiatan RUPAWAN 2026 turut dihadiri Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali, Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI M. Anwar Bashori, Sekda NTB Abul Chair, serta Rektor Universitas Mataram Prof. Dr. Sukardi.
Dalam sambutannya, Abul Chair menilai semangat kepahlawanan dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menghargai Rupiah sebagai identitas dan simbol persatuan Indonesia.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali mengungkapkan bahwa setiap lembar Rupiah menyimpan cerita sejarah, budaya, dan kekayaan alam Indonesia.
Dia mencontohkan sejumlah desain uang Rupiah yang memiliki keterkaitan dengan NTB. Di antaranya gambar Ayam Hutan Hijau pada uang pecahan Rp500 emisi 1959, Rusa Timor pada pecahan Rp500 emisi 1988, serta Danau Segara Anak di Gunung Rinjani pada uang Rp10.000 emisi 1998.
Menurut Ricky, Bank Indonesia terus menjaga ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah cukup, pecahan sesuai kebutuhan, serta kondisi layak edar hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil melalui berbagai layanan, termasuk kas keliling.
Dalam kegiatan tersebut, BI juga memperkenalkan tiga prinsip utama CBP Rupiah kepada generasi muda.
Pertama, Cinta Rupiah dengan mengenali keaslian dan merawat uang. Kedua, Bangga Rupiah dengan menggunakannya dalam setiap transaksi di wilayah Indonesia. Ketiga, Paham Rupiah dengan memahami peran uang dalam perekonomian serta mengelola keuangan secara bijak.
RUPAWAN 2026 juga menghadirkan Festival Karya CBP Rupiah yang melibatkan pelajar dari NTB, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa SMA Negeri 5 Mataram turut menampilkan hasil kreativitas mereka dalam kegiatan tersebut.
Selain festival, rangkaian acara mencakup Bincang Rupawan, Ngobrol Publik, CBP Rupiah Championship, dan Pameran Rupawan.
Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia berharap generasi muda tidak hanya memahami fungsi Rupiah sebagai alat pembayaran, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga martabat dan kedaulatan mata uang Indonesia.












