Lombok Barat, Jurnalekbis.com— Menjelang musim Tanam, warga Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, menggelar tradisi bakar timbung massal sebagai bentuk syukur atas hasil bumi tahun ini. Tradisi turun-temurun itu digelar di Dusun Batu Kumbung dan menjadi rangkaian utama dari acara adat “Ruah Gubuk Turun Ngaro,” sebuah ritual sakral yang setiap tahun dilaksanakan setelah kegiatan Perang Topat di Kemaliq Lingsar.
Prosesi bakar timbung dilakukan dengan membuat hidangan tradisional yang menggunakan bahan dasar ketan, santan, dan garam. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam bambu kecil yang telah dilapisi daun pisang, sebelum dibakar hingga matang. Setelah keluar dari bara api, timbung disajikan bersama aneka hidangan pendamping khas kampung, seperti tape ketan, gula aren yang dicampur parutan kelapa, hingga abon ikan hasil olahan warga.
Kepala Desa Batu Kumbung, Wirya Adi Saputra, mengatakan bahwa tradisi bakar timbung sudah dilakukan sejak masa nenek moyang dan menjadi bagian penting dari identitas budaya setempat.
“Ini rangkaian dari acara puncak tasyakuran masyarakat kami, yang di sini dikenal dengan Ruah Gubuk Turun Ngaro. Tradisi ini sudah ada sejak turun-temurun,” ujar Wirya. Jumat (12/12).
Ia menjelaskan bahwa sehari sebelum acara inti, warga terlebih dahulu menggelar bakar timbung sebagai bentuk penghormatan dan simbol kebersamaan. Kegiatan itu juga berkaitan dengan area sakral bernama Pancur Denek, tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat karena terdapat petilasan salah satu ulama yang pernah bermukim di Batu Kumbung.
“Besok timbung ini akan dibawa ke lokasi keramat itu untuk diroahkan dan dizikirkan oleh tokoh adat serta tokoh agama,” tambahnya.
Tradisi syukuran masyarakat Batu Kumbung berlangsung selama tiga hari. Hari pertama diisi dengan kegiatan bakar timbung, hari kedua merupakan acara puncak doa dan persembahan hasil panen di area sakral, sementara malam harinya digelar pertunjukan wayang kulit.
Menariknya, tahun ini pertunjukan wayang kulit menghadirkan dalang cilik, sebuah upaya regenerasi budaya yang diharapkan mampu melestarikan seni tradisional di Lombok Barat.
“Kalau dulu dalangnya dewasa, sekarang kami mencoba memakai dalang cilik. Harapannya seni perwayangan bisa terus berkembang, terutama di Lombok Barat dan NTB,” kata Wirya.
Meski warga terus melestarikan timbung sebagai makanan utama dalam ritual, Wirja mengaku tidak mengetahui secara pasti sejarah awal penggunaan bambu sebagai wadah. Namun ia menegaskan bahwa timbung selalu berkaitan dengan hasil panen masyarakat.
“Intinya, timbung ini terbuat dari bahan panen warga. Mungkin dahulu padi dan bambu itu sama-sama mudah didapat, jadi tradisinya memakai timbung,” jelasnya.
Pada puncak acara, warga akan membawa seluruh hasil panen mulai dari pertanian hingga perkebunan—ke area sakral tersebut. Semua dipersembahkan sebagai wujud syukur atas rezeki yang diperoleh sepanjang tahun.
Tradisi bakar timbung di Batu Kumbung bukan hanya sarat nilai budaya, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarwarga. Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat tetap menjadikan ritual ini sebagai warisan yang harus dijaga dan dilestarikan.
Dengan konsistensi pelaksanaan setiap tahun dan antusiasme warga yang terus bertahan, tradisi bakar timbung menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup kuat di tengah masyarakat Lombok Barat. Jika dikelola dengan baik, tradisi ini berpotensi menjadi daya tarik budaya yang dapat menarik wisatawan dan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.














