Hukrim

Cekcok Soal Uang, Anak di Lombok Barat Tega Habisi Nyawa Ayahnya

×

Cekcok Soal Uang, Anak di Lombok Barat Tega Habisi Nyawa Ayahnya

Sebarkan artikel ini
Cekcok Soal Uang, Anak di Lombok Barat Tega Habisi Nyawa Ayahnya

Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Seorang wanita bernama Yoan Agustin (37), warga Dusun Montong Sager, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, diduga tega menganiaya ayah kandungnya sendiri, Rahmat Sadewarsa (67), hingga meninggal dunia. Peristiwa tragis ini dipicu persoalan sepele, yakni permintaan uang yang tidak dipenuhi.

Kepala Dusun Montong Sager, Haeri, mengungkapkan insiden bermula sejak pagi hari ketika korban dan pelaku terlibat cekcok di dalam rumah. Berdasarkan keterangan warga sekitar, Yoan meminta uang kepada ayahnya untuk makan, namun korban mengaku tidak memiliki uang saat itu.

“Menurut tetangga dekatnya, sejak subuh sudah terdengar teriak-teriak. Anaknya mencaci bapaknya karena minta uang, tapi bapaknya tidak punya,” ujar Haeri saat memberikan keterangan.

Sekitar pukul 06.30 WITA, korban sempat pergi ke kebun miliknya yang berada di dekat rumah. Ia kemudian kembali sekitar pukul 07.30 WITA dengan membawa sayur mayur untuk sarapan. Namun, situasi di rumah kembali memanas.

Baca Juga :   Pria Asal Lombok Setubuhi Anak Kandungnya Di Bawah Umur

Memasuki sekitar pukul 10.00 WITA, pertengkaran kembali terjadi dan berujung pada aksi kekerasan. Dalam insiden tersebut, Yoan mengaku sempat mencakar dan mendorong korban. Warga yang melihat kejadian itu berupaya melerai keduanya.

“Sempat terjadi pukul-memukul. Pak Rahmat sempat terdorong ke tembok. Setelah itu mereka berdiri, tapi tidak lama kemudian korban jatuh,” kata Haeri.

Akibat benturan dan kondisi fisik yang menurun, korban tergeletak tak berdaya. Warga kemudian berinisiatif membawa korban ke puskesmas menggunakan kendaraan bak terbuka. Namun nahas, nyawa korban tidak tertolong.

“Pas sampai di puskesmas, dokter menyatakan korban sudah meninggal dunia. Kemungkinan sudah meninggal sebelum tiba di sana,” jelasnya.

Hingga kini, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Pihak puskesmas belum dapat memastikan secara medis apakah kematian disebabkan oleh benturan fisik atau faktor kesehatan lain.

Baca Juga :  Polisi Bongkar Peredaran Sabu 2,02 Gram di Wera Bima, 6 Orang Diamankan

Dari hasil penelusuran aparat desa, konflik antara pelaku dan korban bukan kali pertama terjadi. Haeri menyebut keduanya kerap terlibat pertengkaran, bahkan sebelumnya sempat dimediasi di kantor desa.

“Sekitar 10 hari lalu, korban datang meminta bantuan karena anaknya membakar pakaian miliknya. Kami sempat mediasi, bahkan pelaku saat itu meminta uang hingga Rp25 juta kepada bapaknya,” ungkap Haeri.

Permintaan tersebut diduga berkaitan dengan klaim pelaku bahwa korban pernah menggunakan uang miliknya di masa lalu. Namun, keterangan itu dibantah oleh anggota keluarga lain.

Diketahui, Yoan Agustin tidak memiliki pekerjaan tetap dan memiliki riwayat pernah menjalani hukuman penjara selama lebih dari empat tahun dalam kasus narkoba. Sejak keluar dari penjara, perilakunya disebut mulai berubah dan cenderung tertutup.

Baca Juga :  Curi Mio Merah Saat Korban Lalai, Pria di Labuapi Diringkus Polisi

“Kalau soal gangguan jiwa kami tidak bisa memastikan karena belum pernah diperiksa. Tapi sejak keluar dari penjara, dia memang berubah,” tambah Haeri.

Kondisi ekonomi keluarga korban sendiri tergolong kurang mampu, yang diduga turut menjadi pemicu konflik berkepanjangan di dalam keluarga tersebut.

Kasus ini kini dalam penanganan aparat kepolisian setempat untuk penyelidikan lebih lanjut. Polisi masih mendalami motif dan kronologi lengkap kejadian, termasuk kemungkinan adanya unsur kekerasan yang menyebabkan kematian korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *