Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Penantian panjang selama 14 tahun akhirnya terbayar bagi Mukarram, seorang tukang angkut sampah asal Desa Ombe, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan penghasilan terbatas, ia berhasil mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji tahun ini.
Mukarram dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci seorang diri setelah melalui proses panjang sejak mendaftar pada 2012. Saat itu, ia harus mengumpulkan setoran awal sekitar Rp12 juta untuk mendapatkan nomor porsi haji—jumlah yang tidak mudah bagi pekerja dengan penghasilan minim.
“Kalau dihitung dari tahun 2012, sudah sekitar 14 tahun saya menunggu,” ujar Mukarram, Jumat (24/4).
Sehari-hari, Mukarram bekerja sebagai petani sekaligus mengangkut sampah di dusunnya. Dari pekerjaan tersebut, ia hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp700 ribu per bulan dari desa, ditambah hasil bertani yang tidak menentu. Meski begitu, ia tetap konsisten menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan haji.
“Sedikit-sedikit saya sisihkan. Kalau sudah cukup satu juta, baru saya masukkan ke tabungan haji,” katanya.
Pekerjaan mengangkut sampah yang dijalaninya mencakup satu dusun dengan lebih dari 400 kepala keluarga. Aktivitas tersebut ia lakukan hampir setiap hari, kecuali Minggu. Dari hasil kerja keras itulah ia menabung secara disiplin selama bertahun-tahun.
“Setiap hari saya angkut sampah di sekitar dusun. Itu yang saya sisihkan untuk ditabung,” ucapnya.
Namun perjalanan menuju Tanah Suci tidak selalu mudah. Mukarram mengaku sempat merasa putus asa, terutama ketika melihat sejumlah rekannya harus menunggu hingga lebih dari 20 tahun tanpa kepastian keberangkatan.
“Kadang-kadang kita hampir putus asa. Ada teman saya yang sampai 20 tahun belum berangkat. Tapi saya bersyukur, 14 tahun akhirnya dipanggil,” tuturnya.
Momen paling mengharukan datang saat ia menerima surat panggilan haji. Setelah bertahun-tahun menanti, kabar tersebut menjadi titik balik yang penuh haru dan kebahagiaan.
“Rasanya senang sekali. Ini mungkin karena Allah sudah meridai, jadi saya dapat panggilan tahun ini,” katanya.
Kisah Mukarram mencerminkan perjuangan panjang yang tidak hanya mengandalkan kemampuan finansial, tetapi juga ketekunan dan keyakinan. Dari penghasilan yang terbatas, ia mampu membuktikan bahwa impian besar tetap bisa dicapai dengan disiplin dan kesabaran.
Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi bahwa ibadah haji bukan semata soal kecukupan materi, melainkan juga tentang niat yang kuat dan usaha tanpa henti.














