Mataram, Jurnalekbis.com– Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Anindya Bakrie, mengukuhkan kepengurusan Kadin Nusa Tenggara Barat (NTB) periode 2025-2030 dengan membawa pesan kuat kepada pelaku usaha agar menjadikan NTB sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ia menilai NTB justru memiliki peluang besar karena mampu menjaga keseimbangan antara industri pengolahan, pariwisata, dan sektor pertanian.
Dalam sambutannya, Anindya menegaskan KADIN bukan lembaga pemerintah, melainkan organisasi independen, swadaya, dan nirlaba yang bertugas memperkuat dunia usaha sebagai motor utama perekonomian nasional.
“Kami bukan lembaga pemerintah. Kami lembaga independen, swadaya, non-profit, tetapi berusaha memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia. Sekitar 92 persen PDB Indonesia berasal dari dunia usaha, dan itulah yang kami perjuangkan,” ujar Anindya.
Menurutnya, KADIN tidak hanya mewakili perusahaan besar, tetapi juga menjadi rumah bagi sekitar 60 juta pelaku UMKM, usaha mikro, dan koperasi yang membutuhkan akses pembiayaan, pasar, teknologi, serta jejaring usaha.
Anindya mengapresiasi capaian ekonomi NTB yang mencatat pertumbuhan sekitar 13,64 persen, salah satu yang tertinggi secara nasional. Ia menilai keberhasilan tersebut tidak hanya ditopang industri pengolahan, tetapi juga ditunjang pertumbuhan sektor pariwisata dan agribisnis sehingga menciptakan fondasi ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Pertumbuhan ini patut disyukuri karena bukan hanya berasal dari satu sektor. Pariwisata dan agribisnis juga ikut tumbuh sehingga menciptakan keseimbangan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Ia juga mendorong KADIN NTB menjadi katalis investasi, mempercepat hilirisasi sektor pertanian, perikanan, dan ekonomi biru, serta memanfaatkan peluang perdagangan internasional melalui berbagai perjanjian dagang yang dimiliki Indonesia.
Selain itu, Anindya mengungkapkan Kadin Indonesia segera meluncurkan program “We Buy from Indonesia” untuk memperkuat promosi produk nasional di pasar global. Menurutnya, konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi “We Buy from NTB” guna memperkenalkan produk unggulan daerah ke pasar internasional.
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal mengajak pelaku usaha mengubah cara pandang terhadap situasi global. Ia menilai krisis bukan lagi kondisi sementara, melainkan bagian dari dinamika baru yang harus dijadikan peluang.
“Kita harus mulai menganggap krisis sebagai normalitas. Yang terpenting bukan fokus pada krisisnya, tetapi fokus mencari peluang yang lahir dari setiap perubahan,” kata Iqbal.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi NTB yang kini telah menembus dua digit menjadi bukti bahwa strategi pembangunan daerah mulai menunjukkan hasil. Yang lebih penting, kata dia, pertumbuhan tersebut disertai kenaikan signifikan pada sektor pertanian dan pariwisata sehingga langsung berdampak terhadap daya beli masyarakat.
Iqbal juga mengajak pengusaha KADIN memanfaatkan peluang bisnis di sektor pangan, garam, perikanan, agroforestri, dan agromaritim. Pemerintah Provinsi NTB, lanjutnya, siap memberikan dukungan bagi investor yang masuk ke sektor-sektor produktif tersebut.
Di sisi lain, Ketua KADIN NTB H. Faurani memastikan dunia usaha di daerah tetap optimistis meski menghadapi tekanan ekonomi global. Ia menegaskan pengusaha tidak boleh berhenti berinovasi dan harus memperkuat sinergi dengan pemerintah sesuai amanat Undang-Undang KADIN.
“Dalam situasi global yang tidak menentu, pengurus KADINKadin tidak pernah putus asa. Kami akan terus mencari solusi, berinovasi, dan memperkuat kolaborasi agar dunia usaha di NTB terus tumbuh,” ujarnya.
Pelantikan pengurus KADIN NTB menjadi momentum memperkuat kemitraan antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mempercepat investasi, memperluas lapangan kerja, meningkatkan daya saing UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.













