ITDC Gandeng Owl Tower Bali, Burung Hantu Tyto Alba Jadi Senjata Petani Lawan Hama Tikus

ITDC Gandeng Owl Tower Bali, Burung Hantu Tyto Alba Jadi Senjata Petani Lawan Hama Tikus

Gianyar, Jurnalekbis.com– Upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap racun tikus kini ditempuh dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan. InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui Program Community Development The Nusa Dua menggandeng Yayasan Owl Tower Bali mengembangkan pertanian organik berbasis konservasi lingkungan di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali.

Kolaborasi tersebut memanfaatkan burung hantu jenis Tyto Alba sebagai predator alami pengendali hama tikus di lahan persawahan. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem tanpa bergantung pada bahan kimia.

Sebagai tahap awal, ITDC menyerahkan bantuan berupa 10 unit Rumah Burung Hantu (RUBUHA), satu kandang adaptasi berukuran 3 x 2 meter, serta pakan awal selama 14 hari yang terdiri atas jangkrik dan 84 ekor tikus. Sementara Yayasan Owl Tower Bali menyediakan sepasang burung hantu Tyto Alba yang akan dibudidayakan sebagai predator alami di kawasan pertanian.

General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai bersama melalui pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Kolaborasi InJourney dan ITDC Berfokus Pada Pengembangan Hospitality

“Kami percaya keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui pengelolaan destinasi pariwisata, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap sektor pertanian yang menjadi bagian penting dari pembangunan daerah,” kata Agus.

Menurutnya, penggunaan predator alami dapat membantu petani mengendalikan hama secara efektif sekaligus menjaga keanekaragaman hayati, keseimbangan ekosistem, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Ia menambahkan, program ini juga mendukung implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama pada aspek ketahanan pangan, perlindungan ekosistem daratan, serta penguatan kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan.

Pendiri Yayasan Owl Tower Bali, dr. I Wayan Wirawan, menjelaskan Tyto Alba merupakan salah satu predator paling efektif untuk menekan populasi tikus sawah. Seekor burung hantu dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus setiap malam sehingga menjadi solusi biologis yang lebih aman dibandingkan penggunaan racun.

Baca Juga :  InJourney Gelar Program Peduli Literasi di Mandalika: Tingkatkan Minat Baca Anak-anak NTB

“Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hayati terbukti mampu mengurangi ketergantungan terhadap racun tikus. Selain ramah lingkungan, metode ini membantu menjaga keseimbangan rantai makanan dan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Apresiasi datang dari Ketua Kelompok Tani Desa Kedisan, I Putu Yoga Wibawa. Ia menilai bantuan RUBUHA beserta burung hantu sangat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan pertanian organik di wilayahnya.

Menurut Yoga, serangan hama tikus selama ini menjadi salah satu tantangan utama yang memengaruhi hasil panen. Kehadiran burung hantu diyakini mampu menekan populasi hama secara alami sehingga produktivitas dan kualitas hasil pertanian dapat meningkat.

Ia memastikan seluruh fasilitas yang diterima akan dirawat dan dimanfaatkan secara optimal agar manfaatnya dirasakan seluruh anggota kelompok tani secara berkelanjutan.

Penggunaan burung hantu sebagai agen pengendali hayati sendiri telah diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Selain efektif mengurangi populasi tikus, metode ini membantu menjaga kesuburan tanah, melindungi organisme non-target, serta menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat karena minim penggunaan bahan kimia.

Baca Juga :  Harga Tiket Pesawat Turun! InJourney Airports Berikan Diskon Besar

Bagi ITDC, inisiatif tersebut menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Perusahaan menilai keberlanjutan sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan sektor pertanian dan kelestarian lingkungan.

Melalui kemitraan dengan Yayasan Owl Tower Bali, ITDC berharap model pertanian berbasis konservasi ini dapat direplikasi di daerah lain sehingga memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih luas bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *