Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen, Ekspor Tambang Jadi Motor Sekaligus Tantangan

Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen, Ekspor Tambang Jadi Motor Sekaligus Tantangan

Mataram, Jurnalekbis.com — Perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) masih mencatat pertumbuhan kuat pada Triwulan II-2026, tetapi lajunya mulai melambat dibandingkan periode sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Triwulan II-2026, turun dibandingkan pertumbuhan Triwulan I-2026 yang mencapai 13,64 persen.

Perlambatan tersebut tidak terlepas dari dinamika sektor pertambangan dan ekspor, terutama komoditas hasil tambang yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.

Kepala BPS Provinsi NTB Dr. Drs. Wahyudin, MM, mengatakan ekspor memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan ekonomi NTB. Peran tersebut terutama berasal dari komoditas pertambangan yang menjadi salah satu sektor terbesar dalam struktur perekonomian NTB setelah pertanian.

Menurut Wahyudin, ketika aktivitas ekspor konsentrat meningkat, dampaknya tidak hanya tercermin pada kinerja perdagangan luar negeri, tetapi juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi sektor pertambangan dan aktivitas ekonomi turunannya.

“Ekspor itu cukup luar biasa pengaruhnya terhadap ekonomi kita. Karena memang dari tambang itu, lapangan usaha tambang itu nomor dua setelah pertanian,” ujar Wahyudin, Kamis (6/8).

Pertumbuhan Masih Tinggi, tetapi Melambat

Berdasarkan Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS NTB yang disampaikan pada 5 Agustus 2026, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku pada Triwulan II-2026 mencapai Rp53,91 triliun.

Sementara berdasarkan harga konstan 2010, PDRB NTB tercatat sebesar Rp29,89 triliun.

Secara kuartalan, ekonomi NTB pada Triwulan II-2026 tumbuh 0,72 persen dibandingkan Triwulan I-2026 (q-to-q).

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi secara kuartalan terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, yang tumbuh 11,42 persen.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 3,81 persen.

Jika dibandingkan dengan Triwulan II-2025, ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen.

Angka tersebut masih tergolong tinggi, tetapi menunjukkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I yang mencapai 13,64 persen.

BPS mencatat, dari sisi produksi, lapangan usaha pertambangan dan penggalian menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 30,57 persen secara tahunan.

Sementara dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 49,42 persen.

Kinerja tersebut memperlihatkan satu fakta penting: ekspor masih menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi NTB.

Namun, pada saat yang sama, ketergantungan tersebut juga membuat perekonomian NTB cukup sensitif terhadap perubahan kebijakan ekspor, kapasitas produksi tambang, aktivitas smelter, hingga kondisi pasar komoditas global.

Relaksasi Ekspor Jadi Faktor Penting

Kinerja ekspor NTB pada Triwulan II-2026 tidak dapat dilepaskan dari kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga yang berlaku sejak November 2025 hingga April 2026.

Kebijakan tersebut memberikan ruang bagi perusahaan pertambangan untuk tetap melakukan ekspor konsentrat ketika kapasitas pengolahan di dalam negeri belum sepenuhnya optimal.

BPS menyebut pertumbuhan ekspor barang dan jasa pada Triwulan II-2026 yang mencapai 49,42 persen secara tahunan terutama didorong peningkatan nilai ekspor komoditas pertambangan dan hasil industri pengolahan.

Kondisi itu juga berkaitan dengan optimalisasi aktivitas smelter serta relaksasi ekspor konsentrat tembaga.

Namun, menurut Wahyudin, pengaruh relaksasi tersebut mulai berkurang setelah periode kebijakan berakhir.

Baca Juga :  UMKM NTB Dibidik Tembus Investasi Rp1 Triliun, Ini Strategi Besarnya

Ia menjelaskan, aktivitas ekspor konsentrat pada periode Triwulan II tidak berlangsung sepanjang tiga bulan. Ekspor masih memberikan kontribusi besar, tetapi aktivitasnya tidak lagi sebesar ketika relaksasi masih berjalan.

“Triwulan kedua itu, ekspor hanya sampai bulan April. Mei, Juni itu enggak ada lagi,” kata Wahyudin.

Situasi tersebut kemudian ikut memengaruhi laju pertumbuhan sektor pertambangan.

Menurut Wahyudin, apabila dibandingkan antara Triwulan I dan Triwulan II, produksi pertambangan mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Meski sektor pertambangan masih tumbuh secara tahunan, laju pertumbuhannya mengalami perlambatan.

Pada Triwulan I, pertumbuhan sektor pertambangan disebut masih berada di atas 60 persen secara tahunan. Sementara pada Triwulan II, pertumbuhan sektor tersebut berada di kisaran 30 persen.

Data BPS sendiri mencatat pertumbuhan lapangan usaha pertambangan dan penggalian pada Triwulan II-2026 sebesar 30,57 persen yoy.

“Walaupun dari sisi tambang masih tumbuh, tetapi tumbuhnya kemarin lebih dari 60 persen, sekarang hanya tumbuh sekitar 30 persen,” ujar Wahyudin.

Perubahan tersebut menjadi salah satu penjelasan mengapa pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan II tidak setinggi Triwulan I.

Semester I Masih Tumbuh Dua Digit

Meski terjadi perlambatan secara kuartalan, kinerja ekonomi NTB sepanjang enam bulan pertama 2026 masih mencatat pertumbuhan yang relatif kuat.

BPS mencatat ekonomi NTB pada Semester I-2026 tumbuh 10,42 persen dibandingkan Semester I-2025.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi kembali berasal dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang tumbuh 31,18 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 68,17 persen.

Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi aktivitas pertambangan dan ekspor terhadap ekonomi NTB selama paruh pertama 2026.

Namun, data tersebut juga memberikan gambaran mengenai tantangan yang harus dihadapi NTB pada paruh kedua tahun ini.

Jika ekspor konsentrat tidak kembali meningkat dan produksi tambang mengalami perlambatan, maka kontribusi sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi berpotensi ikut menurun.

Wahyudin mengatakan, produksi tambang memang masih tumbuh, tetapi tingkat pertumbuhannya tidak lagi setinggi pada awal tahun.

“Makanya sekarang ini pertumbuhan ekonomi kita sedikit melambat,” ujarnya.

Smelter Belum Beroperasi Penuh

Harapan terhadap peningkatan nilai tambah hasil tambang kini semakin diarahkan pada keberadaan smelter.

Secara konsep, hilirisasi seharusnya mampu mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah atau konsentrat dan meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.

Namun, BPS menilai kapasitas smelter yang ada belum sepenuhnya mencapai tingkat maksimal.

Wahyudin menyebut aktivitas smelter saat ini masih berada pada kisaran 50 hingga 60 persen kapasitas.

Artinya, masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan produksi hasil pengolahan apabila kapasitas operasional dapat terus dinaikkan.

“Smelter itu sebenarnya belum full capacity. Dia masih sekitar 50-60 persen,” kata Wahyudin.

Kondisi tersebut menjadi penting karena semakin tinggi kapasitas pengolahan, semakin besar pula potensi produksi komoditas hasil hilirisasi yang dapat masuk ke pasar domestik maupun pasar ekspor.

Jika hasil pengolahan, terutama tembaga, dapat diekspor dalam volume lebih besar, maka dampaknya berpotensi kembali terlihat pada kinerja ekspor NTB.

Baca Juga :  PLN Jamin Pasokan Listrik Aman Saat Pembukaan FORNAS NTB

Namun, tidak semua komoditas hasil tambang saat ini diarahkan untuk pasar luar negeri.

Emas dan Perak Lebih Banyak Masuk Pasar Domestik

Selain tembaga, aktivitas pengolahan menghasilkan komoditas lain seperti emas dan perak.

Namun menurut Wahyudin, pola pemasarannya mengalami perubahan.

Emas dan perak saat ini lebih banyak diarahkan ke pasar domestik. Khusus emas, sebagian produksinya disebut bergeser ke Antam.

Perubahan orientasi pasar tersebut membuat kontribusi ekspor tidak otomatis meningkat meskipun produksi hasil pengolahan bertambah.

Ada sejumlah pertimbangan ekonomi yang ikut menentukan keputusan perusahaan, termasuk harga komoditas dan biaya tambahan dalam kegiatan ekspor.

Wahyudin menyebut harga emas serta faktor biaya ekspor menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk menahan sebagian produksi agar dipasarkan di dalam negeri.

Dengan demikian, peningkatan kapasitas smelter tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan nilai ekspor.

Kuncinya terletak pada jenis komoditas yang dihasilkan, tujuan pemasaran, harga global, serta kebijakan perdagangan yang berlaku.

Ketergantungan NTB terhadap Tiga Sektor Utama

Besarnya pengaruh pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi NTB juga harus dibaca dalam konteks struktur ekonomi daerah secara keseluruhan.

Menurut BPS, terdapat tiga sektor utama yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian NTB, yakni pertanian, pertambangan, serta perdagangan.

Pertanian berada pada posisi penting sebagai sektor terbesar. Setelah itu pertambangan menjadi salah satu sektor dengan kontribusi terbesar, disusul perdagangan yang memiliki share sekitar 13 persen hingga mendekati 14 persen.

Jika digabungkan, ketiga sektor tersebut menyumbang lebih dari separuh perekonomian NTB, bahkan mendekati 60 persen.

Struktur tersebut menunjukkan bahwa ekonomi NTB masih sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor berbasis sumber daya alam dan aktivitas perdagangan.

Karena itu, perubahan pada salah satu sektor utama dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Di satu sisi, sektor pertambangan memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan, ekspor dan aktivitas ekonomi. Namun di sisi lain, sektor tersebut sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat, kapasitas produksi, harga komoditas dunia dan permintaan pasar.

Kondisi ini membuat diversifikasi ekonomi menjadi semakin penting.

Pertanian dan Perdagangan Bisa Menjadi Penyangga

Wahyudin menilai sektor pertanian dan perdagangan masih memiliki ruang besar untuk didorong agar perekonomian NTB tidak terlalu bergantung pada pertambangan.

Pertanian memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan produksi pangan, mata pencaharian masyarakat, serta rantai perdagangan di daerah.

Sementara perdagangan memiliki efek pengganda terhadap berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari distribusi barang, transportasi, jasa, konsumsi rumah tangga hingga usaha mikro dan kecil.

Karena itu, penguatan kedua sektor tersebut dapat menjadi strategi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi ketika kontribusi pertambangan mengalami perlambatan.

“Yang bisa kita genjot ini kan pertanian, pertanian dan perdagangan,” ujar Wahyudin.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB ke depan tidak cukup hanya mengandalkan ekspor komoditas tambang.

Relaksasi Ekspor: Penting, tetapi Bukan Solusi Permanen

Dari perspektif ekonomi daerah, relaksasi ekspor memang memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjaga produksi dan aktivitas ekonomi ketika kapasitas smelter belum optimal.

Namun, kebijakan tersebut pada dasarnya merupakan kebijakan khusus yang memiliki alasan dan batas waktu.

Baca Juga :  Investasi dan Konsumsi Dorong Pertumbuhan Ekonomi NTB

Wahyudin menjelaskan, relaksasi sebelumnya diberikan karena kapasitas smelter masih relatif rendah dan sempat terdapat persoalan teknis berupa kerusakan mesin.

Pada saat itu, kapasitas produksi smelter disebut baru sekitar 25 hingga 30 persen sehingga pemerintah memberikan ruang untuk ekspor konsentrat.

Kini kondisinya berbeda. Kapasitas smelter telah meningkat menjadi sekitar 50 hingga 60 persen dan operasional mesin telah kembali normal.

Karena itu, peluang mendapatkan relaksasi ekspor dengan alasan yang sama menjadi lebih terbatas.

“Kalau kita bilang penting, ya penting. Cuma aturannya yang tidak memungkinkan,” kata Wahyudin.

Menurutnya, relaksasi ekspor bisa memberikan dampak positif terhadap produksi apabila pemerintah memberikan ruang tersebut.

Namun, kebijakan tersebut harus mempertimbangkan tujuan utama hilirisasi, yakni meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Dengan kata lain, tantangan NTB bukan sekadar bagaimana kembali meningkatkan ekspor konsentrat, tetapi bagaimana memastikan peningkatan kapasitas pengolahan mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi daerah.

Tantangan Ekonomi NTB Setelah Tambang

Kinerja ekonomi NTB pada Semester I-2026 memperlihatkan bahwa pertumbuhan dua digit masih mungkin dicapai ketika sektor tambang dan ekspor bergerak kuat.

Namun, perlambatan dari 13,64 persen pada Triwulan I menjadi 7,41 persen pada Triwulan II juga menjadi sinyal bahwa momentum tersebut tidak boleh hanya bergantung pada satu mesin pertumbuhan.

Pemerintah daerah perlu memperkuat sektor-sektor yang memiliki basis ekonomi lebih luas dan mampu menciptakan lapangan kerja secara berkelanjutan.

Pertanian, perdagangan, pariwisata, akomodasi, makan minum, industri pengolahan dan sektor jasa dapat menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Data Triwulan II menunjukkan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mampu tumbuh 11,42 persen secara q-to-q. Ini menjadi indikasi bahwa sektor berbasis konsumsi dan pariwisata masih memiliki potensi untuk menopang ekonomi daerah.

Dengan demikian, tantangan NTB ke depan bukan hanya mempertahankan produksi tambang dan meningkatkan ekspor, tetapi juga memastikan pertumbuhan ekonomi memiliki fondasi yang lebih beragam.

Pertambangan tetap penting. Ekspor tetap menjadi mesin pertumbuhan. Smelter menjadi bagian penting dari agenda hilirisasi.

Namun, ketika kebijakan ekspor berubah atau produksi tambang menurun, ekonomi daerah membutuhkan mesin pertumbuhan lain yang cukup kuat untuk menjaga momentum.

Bagi NTB, data BPS Triwulan II-2026 menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya alam memang mampu mengangkat pertumbuhan secara signifikan. Tetapi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan daerah mengubah momentum tersebut menjadi struktur ekonomi yang lebih produktif, beragam dan tahan terhadap perubahan kebijakan maupun gejolak pasar global.

Dengan pertumbuhan Semester I sebesar 10,42 persen, fondasi ekonomi NTB masih tergolong kuat. Tantangannya kini adalah menjaga agar pertumbuhan tersebut tidak berhenti sebagai angka statistik, tetapi diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, kesempatan kerja, pendapatan masyarakat dan nilai tambah yang lebih besar di daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *