Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Aktivitas menenun sarung di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini tidak hanya menghasilkan kain. Gerakan kaki penenun pada alat tenun bukan mesin (ATBM) juga menghasilkan energi listrik.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Mina Tenun yang melibatkan kelompok penenun di Desa Sukarara bersama PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok.
Sistem tersebut menggabungkan modifikasi ATBM dengan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Energi dari aktivitas menenun dan tenaga angin kemudian masuk ke baterai untuk digunakan kembali.
Energi yang tersimpan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sederhana, seperti menyalakan lampu saat listrik padam dan mengisi daya telepon seluler. Sistem yang sama juga dirancang untuk mendukung kebutuhan energi pompa air.
Koordinator Mina Tenun Desa Sukarara, Sudiman, mengatakan setiap gerakan pada ATBM kini memiliki fungsi tambahan. Selain menggerakkan proses pembuatan sarung, gerakan tersebut ikut menghasilkan energi.
“Selain menghasilkan tenun, juga setiap pergerakan yang kita gerakkan, jadi ada menghasilkan energi,” kata Sudiman, Rabu (23/9).
Menurut dia, energi dari aktivitas menenun masuk ke sistem penyimpanan baterai. Ketika membutuhkan listrik, kelompok penenun dapat memanfaatkan energi yang sudah tersimpan tersebut.
“Baterai yang ada di sini bisa kita gunakan kalau lampu mati. Kemudian kita bisa ngecas HP,” ujarnya.
Dua ATBM Dimodifikasi
Program Mina Tenun saat ini memiliki dua unit ATBM yang sudah mendapat modifikasi untuk menghasilkan energi. Keduanya juga dilengkapi perangkat pemintal. Masing-masing pemintal menggunakan generator sehingga aktivitas memintal turut memberikan input energi ke sistem.
Community Development Officer PT Pertamina AFT BIL, Erly Yeniska Hermitasari, menjelaskan konsep tersebut menggabungkan energi mekanis dari aktivitas penenun dengan energi angin dari PLTB.
“Jadi ibu-ibu yang menenun ini hasilnya bukan hanya kain tenun, tapi juga energi,” ujar Erly.
Energi dari ATBM masuk ke baterai induk. Pada saat yang sama, PLTB memanfaatkan hembusan angin di kawasan tersebut untuk menambah pasokan energi.
Erly mengatakan kondisi geografis Lombok Tengah mendukung penggunaan pembangkit tenaga angin. Lokasi program berada sekitar 20 kilometer dari kawasan pantai sehingga hembusan angin masih cukup terasa, terutama pada sore hingga malam hari. Sistem tersebut kemudian menggabungkan beberapa sumber energi dalam satu rangkaian.
“Ini adalah inovasi kalau saya nyebutnya Batik Bayu Tenun Renewable Integrated System,” katanya.
Meski menggunakan nama ATBM, alat tersebut tetap membutuhkan tenaga manusia dalam proses pengoperasiannya. Justru gerakan kaki penenun menjadi salah satu sumber energi yang dimanfaatkan.
Tidak Ada Gerakan yang Terbuang
Konsep utama inovasi ini cukup sederhana. Saat penenun menggerakkan pedal ATBM, mekanisme tersebut menggerakkan generator. Energi yang muncul kemudian disimpan dalam baterai. Dengan cara itu, aktivitas produksi tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga menghasilkan energi tambahan. Erly menyebut pendekatan tersebut penting karena teknologi yang diterapkan di masyarakat tidak bisa sekadar menyalin sistem yang digunakan dalam lingkungan industri.
“Ketika kita mengimplementasikan teknologi yang cukup rumit, kita perlu adanya modifikasi-modifikasi atau simplifikasi,” jelasnya.
Karena itu, sistem di Mina Tenun dibuat agar mudah digunakan dan dipahami para penenun. Erly menggambarkan konsep tersebut secara sederhana. Ketika penenun menggunakan ATBM atau alat pemintal, aktivitas mereka sekaligus menghasilkan energi.
“Setiap kegiatan yang dilakukan di sini sudah menghasilkan energi. Jadi tidak hanya menghasilkan kain sarung, tapi juga menghasilkan energi,” ujarnya.
Kelompok penenun juga dapat memantau kondisi sistem melalui dashboard yang tersedia di lokasi. Dashboard tersebut menunjukkan energi yang masuk, energi yang keluar, serta kapasitas baterai yang tersisa.
Sistem juga memiliki mekanisme pengamanan ketika baterai mencapai kondisi penuh. Saat kapasitas penyimpanan sudah maksimal, sistem menghentikan proses pengisian agar tidak terus menerima energi.

Produksi Sarung Masih Butuh Waktu
Di balik inovasi energi tersebut, aktivitas utama kelompok Mina Tenun tetap membuat kain tradisional. Sudiman menjelaskan kelompoknya memproduksi dua jenis tenun, yakni tenun sarung dan tenun songket. Untuk sarung, kelompok menggunakan bahan rayon atau katun. Sementara songket menggunakan kombinasi katun, benang emas, benang perak, serta bahan lainnya sesuai motif dan desain.
Tingkat keterampilan penenun menentukan lama proses produksi. Penenun yang sudah profesional dapat menyelesaikan satu sarung dalam sehari. Namun, penenun pemula membutuhkan waktu lebih panjang.
“Kalau yang sudah profesional itu bisa satu hari satu sarung. Tapi kalau kita yang pemula, mungkin satu minggu lebih untuk dapat satu sarung,” kata Sudiman.
Perbedaan waktu tersebut terjadi karena proses menenun membutuhkan ketelitian. Penenun harus mengatur benang, motif, pedal, serta berbagai bagian ATBM secara bersamaan.

Pelatihan Jadi Bagian Penting
Pengoperasian ATBM sempat menjadi tantangan bagi kelompok Mina Tenun. Sudiman mengakui alat tersebut tidak mudah digunakan ketika pertama kali diperkenalkan.
Kelompok kemudian mendapatkan pelatihan dari Pertamina dengan menghadirkan tutor dari luar daerah.
Pelatihan berlangsung sekitar satu minggu dan melibatkan anggota kelompok Mina Tenun yang berjumlah sekitar 16 hingga 23 orang.
Setelah pelatihan, tiga orang dinilai sudah mampu mengoperasikan ATBM dengan baik.
Tiga orang tersebut diharapkan menjadi penggerak transfer pengetahuan kepada anggota lainnya.
“Mereka yang sudah bisa diharapkan bisa mengajarkan apa yang dia tahu, apa yang dia paham tentang pembuatan sarung tenun ini kepada anggota-anggota yang belum bisa,” ujar Sudiman.
Mayoritas anggota kelompok merupakan perempuan. Dari sekitar 16 hingga 23 anggota, hanya dua laki-laki yang terlibat, yakni Sudiman dan kepala dusun.
Energi Bergantung pada Aktivitas dan Angin
Hingga kini, pengelola belum menetapkan angka produksi listrik rata-rata per hari. Erly menjelaskan jumlah energi yang dihasilkan ATBM sangat bergantung pada intensitas aktivitas menenun. Semakin sering alat digunakan, semakin banyak energi mekanis yang masuk ke sistem.
Produksi energi dari PLTB juga mengikuti kondisi angin. Karena itu, pengelola masih melakukan riset dan pengembangan untuk mengetahui performa sistem dalam berbagai kondisi.
“Memang kita belum bisa memberi data rata-rata per hari itu listrik yang dihasilkan bisa berapa karena memang masih sangat tergantung dari kegiatan inaq-inaq kita,” kata Erly.
Faktor sosial dan budaya juga ikut mempengaruhi aktivitas produksi. Ketika masyarakat menghadapi kondisi tertentu, termasuk saat ada warga meninggal dunia, kegiatan menenun dapat berhenti sementara.
Kondisi tersebut otomatis memengaruhi jumlah energi yang berasal dari ATBM. Sementara itu, PLTB tetap dapat menghasilkan energi ketika angin tersedia. Jika baterai sudah penuh, sistem menghentikan pengisian. Energi yang tersimpan kemudian dapat digunakan ketika produksi menurun atau tidak ada aktivitas menenun.
Diklaim sebagai Inovasi Baru
Erly menyebut sistem yang menggabungkan ATBM dengan energi terbarukan tersebut masih dalam tahap pengembangan.
Menurut dia, inovasi pemanfaatan aktivitas menenun sebagai sumber energi seperti ini belum pernah mereka temukan di lokasi lain di Indonesia.
“Bisa dibilang pertama di Indonesia. Sependek pengetahuan saya ini pertama di Indonesia,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan sistem tersebut masih membutuhkan pengujian dan penyesuaian karena penerapannya langsung bersentuhan dengan aktivitas masyarakat.
Teknologi tidak hanya harus mampu menghasilkan energi, tetapi juga harus mudah digunakan, dirawat, dan dipahami oleh kelompok penerima manfaat.
Program tersebut juga memanfaatkan material non-B3 dari lingkungan perusahaan untuk mendukung konstruksi sistem PLTB. Material yang sebelumnya menjadi bagian dari persoalan pengelolaan perusahaan dimanfaatkan kembali dalam inovasi masyarakat.
Bagi kelompok Mina Tenun, perubahan itu membuat aktivitas tradisional memiliki fungsi tambahan. Sarung tetap menjadi produk utama, sementara gerakan kaki dan aktivitas pemintalan kini ikut memberikan nilai energi.
Inovasi di Sukarara menunjukkan bahwa teknologi energi terbarukan tidak selalu harus hadir dalam bentuk pembangkit berskala besar. Aktivitas ekonomi masyarakat pun dapat menjadi bagian dari sistem energi ketika teknologi dirancang sesuai kebutuhan dan kemampuan penggunanya.
Di tengah aktivitas penenun yang terus menggerakkan pedal ATBM, setiap hentakan kaki kini memiliki dua hasil: benang berubah menjadi kain, sementara gerakannya berubah menjadi energi.












