Terjebak di Myanmar, Yanwar Disebut Diminta Rp20 Juta untuk Pulang

Terjebak di Myanmar, Yanwar Disebut Diminta Rp20 Juta untuk Pulang
Terjebak di Myanmar, Yanwar Disebut Diminta Rp20 Juta untuk Pulang

Jurnalekbis.com– Keberadaan Muhammad Yanwar, warga Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diduga mengalami eksploitasi di Myanmar, akhirnya terlacak. Yanwar diketahui berada di wilayah Myawaddy, kawasan perbatasan Myanmar-Thailand.

Informasi tersebut disampaikan Pradiptha Himawan Putra, Pejabat Fungsional Pengantar Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB, Jumat (25/9).

Pradiptha mengatakan pihaknya telah menghubungi KBRI Yangon sejak 24 September untuk melaporkan kondisi Yanwar sekaligus menyerahkan dokumen identitas dan paspor.

“Saya sudah mengetahui lokasi keberadaannya Muhammad Yanwar. Dia masuk di wilayah Myawaddy, yaitu merupakan perbatasan Myanmar-Thailand,” kata Pradiptha dalam komunikasi telepon.

Lokasi Yanwar cukup jauh dari Yangon. Perjalanan dari kawasan tersebut menuju Yangon diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 8 jam.

Menurut informasi yang diterima Disnakertrans NTB, Yanwar saat ini dalam kondisi sehat dan telah makan. Namun, pemerintah daerah masih mengkhawatirkan keselamatannya karena lokasi tersebut berada jauh dari pusat kota dan akses menuju fasilitas pemerintahan relatif terbatas.

Pradiptha mengungkapkan Yanwar sebelumnya bekerja di tempat seorang majikan. Saat bekerja, Yanwar sempat mengalami sakit selama dua hingga tiga hari. Setelah itu, ia disebut menyampaikan keinginannya untuk pulang.

Namun, menurut informasi yang diterima pemerintah daerah dari Yanwar, dirinya diminta membayar sekitar Rp20 juta jika ingin meninggalkan tempat kerja tersebut.

Yanwar kemudian dibawa menggunakan mobil oleh anak buah majikannya menuju sebuah rest area. Perjalanan dari tempat kerja menuju lokasi itu memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam.

Setibanya di rest area, Yanwar mendapat informasi bahwa akan ada orang lokal yang menjemput dan mengantarnya menuju bandara.

Kondisi itu membuat Disnakertrans NTB meminta Yanwar tidak mengikuti orang tersebut sebelum ada kepastian dari pihak berwenang.

“Saya pribadi tidak pernah menginstruksikan Yanwar untuk ikut berangkat sama orang lokal di sana ke bandara. Saya takut betul, karena kita enggak tahu,” ujar Pradiptha.

Disnakertrans NTB kini berkoordinasi dengan KBRI Yangon, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), serta BP2MI untuk memastikan keselamatan dan proses pemulangan Yanwar.

Pradiptha mengatakan Kemlu menyampaikan bahwa KBRI masih menunggu pemberitahuan dari otoritas Myanmar sebelum melakukan proses identifikasi dan penjemputan secara resmi.

Sembari menunggu proses tersebut, pemerintah mengarahkan Yanwar tetap berada di lokasi yang aman. Salah satu opsi yang sedang dibahas ialah menempatkannya sementara di hotel dekat rest area.

Pemerintah juga telah mengirimkan titik lokasi melalui Maps, foto Yanwar, serta informasi pendukung kepada KBRI Yangon.

“Yang terpenting sekarang upaya kita bagaimana posisi Yanwar ini bisa berpindah ke kota. Semakin cepat posisi Yanwar ada di kota, semakin cepat proses administrasi kepulangannya,” kata Pradiptha.

Pemprov NTB belum memastikan kapan Yanwar dapat dipulangkan. Proses tersebut masih bergantung pada identifikasi, koordinasi dengan otoritas Myanmar, serta pengurusan dokumen perjalanan dan exit permit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *