BisnisEkonomi

BI Ingatkan NTB Waspadai Gejolak Ekonomi Global, Inflasi Terkendali dan Kredit Tumbuh 26%

×

BI Ingatkan NTB Waspadai Gejolak Ekonomi Global, Inflasi Terkendali dan Kredit Tumbuh 26%

Sebarkan artikel ini
BI Ingatkan NTB Waspadai Gejolak Ekonomi Global, Inflasi Terkendali dan Kredit Tumbuh 26%

Mataram, Jurnalekbis.com — Bank Indonesia (BI) mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika ekonomi global dan domestik yang masih berfluktuasi, termasuk dampak cuaca ekstrem yang memengaruhi produksi pangan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pesan tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BI NTB, Hario Kartiko Pamungkas, dalam paparan ekonomi terbaru, Selasa (2/12).

Menurut BI, kondisi global yang ditandai persaingan antarnegara, ketegangan geopolitik, serta transmisi tekanan ekonomi internasional harus menjadi perhatian daerah. Di sisi lain, perubahan cuaca yang semakin tidak menentu mulai berdampak pada rantai pasok pangan di NTB, terutama menjelang akhir tahun.

“Kita perlu mewaspadai gejolak perekonomian global maupun domestik. Cuaca yang tidak menentu bisa mengganggu produksi pangan dan berdampak pada perekonomian daerah,” ujar Hario.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025, BI memutuskan mempertahankan suku bunga BI rate di posisi 5,75%. Keputusan ini diambil setelah sebelumnya BI menurunkan suku bunga sebanyak enam kali sejak September 2024, hingga kini berada di level 4,75%, salah satu yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga :  Ketersedian Pangan di NTB Dipastikan Aman Antisipasi Dampak El Nino 

BI menilai pelonggaran suku bunga berhasil mendorong industri perbankan memperluas penyaluran kredit ke masyarakat dan sektor riil.

“Kami ingin perbankan semakin agresif menyalurkan kredit. Jika kredit bertumbuh, sektor riil bergerak, ekonomi daerah ikut meningkat,” kata Hario.

Ia juga menegaskan bahwa sinergi kebijakan ditempuh melalui koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang melibatkan BI, Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS. Koordinasi tersebut tak hanya di tingkat pusat, tetapi juga berjalan erat di tingkat daerah, termasuk di NTB.

Hingga November 2025, inflasi NTB tercatat berada dalam kisaran target nasional 2,5±1%, dengan inflasi tahunan sebesar 2,74% (yoy). Meski terkendali, BI mencatat adanya kenaikan inflasi bulanan, terutama dipicu komoditas tomat, angkutan udara, ikan teri, dan bawang merah.

Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan TP2D memperketat koordinasi untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga.

Baca Juga :  PLN Setor Rp65,59 Triliun ke Negara di 2024, Naik Hampir 18 Persen

NTB juga meraih prestasi nasional dalam pengendalian inflasi. Kota Mataram dinobatkan sebagai TPID terbaik wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Kabupaten Lombok Timur bahkan meraih tiga penghargaan sekaligus dalam pengendalian inflasi dan kinerja TP2D.

Penyaluran kredit di NTB hingga Oktober 2025 tumbuh signifikan sebesar 26%, didukung Non-Performing Loan (NPL) yang tetap terjaga. Namun BI mengingatkan adanya peningkatan risiko kredit pada beberapa sektor tertentu.

Untuk memperkuat kualitas kredit, BI mendorong peningkatan kapasitas UMKM agar lebih bankable melalui pelatihan pencatatan transaksi digital menggunakan aplikasi SiApik, pendampingan usaha, serta pengembangan model pembiayaan melalui platform UMKM yang telah disiapkan BI di website resminya.

Hingga saat ini, setidaknya delapan UMKM NTB telah memperoleh pembiayaan melalui platform tersebut dengan nilai mencapai Rp258 juta.

Baca Juga :  Polresta Mataram Dalami Jasa Sewa Pacar

Dalam mendukung ketahanan pangan, BI juga terlibat dalam pengembangan varietas padi Damagora, hasil penelitian UGM yang pertama kali diuji coba di NTB. Varietas itu dikenal tahan perubahan iklim dan mampu meningkatkan produktivitas dari 5–6 ton menjadi 9–10 ton per hektare.

Selain itu, BI mengembangkan kluster produksi cabai bekerja sama dengan pondok pesantren dan kelompok tani. BI juga melatih UMKM untuk mengolah cabai menjadi produk hilir seperti bubuk cabai, sambal, dan saus guna menjaga kestabilan harga.

BI menegaskan bahwa kolaborasi dengan pemerintah daerah, OJK, perbankan, dan berbagai stakeholder akan terus diperkuat untuk menjaga perekonomian NTB tetap tangguh, inklusif, dan mampu menghadapi tantangan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *