Mataram, Jurnalekbis.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kinerja ekspor daerah sepanjang Januari–Desember 2025 mengalami kontraksi signifikan. Total nilai ekspor NTB selama 2025 tercatat mencapai US$ 1,697 miliar, atau turun 33,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Namun demikian, penurunan tahunan tersebut kontras dengan lonjakan tajam yang terjadi pada akhir tahun. Nilai ekspor NTB pada Desember 2025 melonjak drastis, mencapai US$ 633,34 juta, atau naik 368,28 persen dibandingkan Desember 2024.
Ketua Tim Statistik Harga BPS Provinsi NTB, Ir. Muhammad Ahyar, menjelaskan bahwa lonjakan ekspor pada Desember didorong oleh pengapalan komoditas unggulan berbasis sumber daya alam dan industri pengolahan.
“Secara kumulatif ekspor 2025 memang turun dibandingkan 2024, tetapi pada Desember terjadi peningkatan sangat tinggi, terutama dari kelompok barang tambang nonmigas dan perhiasan,” kata Ahyar dalam keterangannya. Senin (2/2).
BPS mencatat, komoditas ekspor terbesar NTB pada Desember 2025 berasal dari Barang Galian atau Tambang Non Migas dengan nilai US$ 346,83 juta, atau 54,76 persen dari total ekspor bulan tersebut. Posisi kedua ditempati Perhiasan dan Permata senilai US$ 156,29 juta atau 24,68 persen.
Selain itu, komoditas Tembaga juga memberikan kontribusi besar dengan nilai ekspor US$ 126,89 juta atau 20,04 persen. Sementara itu, komoditas perikanan masih menyumbang porsi relatif kecil, masing-masing Ikan dan Udang sebesar US$ 2,38 juta (0,38 persen) serta Daging dan Ikan Olahan sebesar US$ 573 ribu (0,09 persen).
Dari sisi negara tujuan, Korea Selatan menjadi pasar ekspor terbesar NTB pada Desember 2025 dengan pangsa 37,84 persen. Disusul Swiss (24,43 persen), India (10,26 persen), Tiongkok (9,03 persen), dan Jepang (8,76 persen). Sisa ekspor dikirim ke sejumlah negara lain dengan total porsi 9,68 persen.
Sementara itu, kinerja impor NTB sepanjang 2025 justru mengalami penurunan tajam. Total nilai impor Januari–Desember 2025 tercatat US$ 254,39 juta, atau turun 72,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Desember 2025, nilai impor NTB tercatat US$ 34,21 juta, atau turun 56,69 persen dibandingkan Desember 2024. Penurunan impor ini menunjukkan berkurangnya aktivitas pembelian bahan baku dan barang modal dari luar negeri.
Adapun komoditas impor terbesar pada Desember 2025 didominasi Karet dan Barang dari Karet dengan nilai US$ 27,00 juta atau 78,94 persen dari total impor. Selanjutnya Plastik dan Barang dari Plastik sebesar US$ 3,23 juta (9,46 persen), Mesin dan Pesawat Mekanik sebesar US$ 1,77 juta (5,20 persen), Produk Kimia sebesar US$ 1,03 juta (3,04 persen), serta Kendaraan dan Bagiannya sebesar US$ 521 ribu (1,52 persen).
Untuk negara asal impor, Jepang menjadi pemasok terbesar dengan pangsa 73,22 persen, diikuti Thailand (9,65 persen), Tiongkok (8,72 persen), Amerika Serikat (3,75 persen), dan Singapura (3,46 persen).
BPS menilai dinamika ekspor-impor NTB sepanjang 2025 mencerminkan ketergantungan yang masih tinggi pada komoditas tambang, sekaligus perlunya penguatan sektor industri hilir dan produk bernilai tambah untuk menjaga stabilitas perdagangan daerah ke depan.














