Mataram, Jurnalekbis.com – Inovasi bahan bangunan dari plastik daur ulang yang diproduksi di Lombok mulai menarik perhatian pasar internasional. Produk blok konstruksi yang dikembangkan oleh PT Block Solutions Indonesia bahkan telah digunakan untuk pembangunan hunian di Arab Saudi, sekaligus menjadi alternatif material bangunan yang diklaim lebih aman dan ramah lingkungan.
CEO PT Block Solutions Indonesia, Jimmy Hutasoit, mengatakan teknologi blok plastik daur ulang tersebut dirancang untuk mengurangi risiko korban jiwa saat terjadi gempa bumi. Menurutnya, salah satu penyebab utama kematian dalam bencana gempa adalah reruntuhan bangunan yang menimpa korban.
“Ketika kita bicara mengenai ketahanan gempa, faktor yang paling sering menyebabkan kematian adalah material bangunan yang runtuh dan menimpa korban. Dengan blok yang kami produksi, risiko itu bisa diminimalisir,” kata Jimmy, Selasa (10/3).
Blok bangunan tersebut memiliki bobot jauh lebih ringan dibandingkan material konstruksi konvensional seperti bata atau beton. Meski demikian, kekuatannya disebut tetap mampu menahan beban besar.
Jimmy menjelaskan, jika dibandingkan dengan bahan bangunan konvensional, blok produksi perusahaannya memiliki berat hingga sepuluh kali lebih ringan. Namun dari hasil uji laboratorium, material tersebut mampu menahan beban hingga sekitar 19 ton.
“Blok ini bobotnya jauh lebih ringan, tapi dari pengujian yang kami lakukan di beberapa laboratorium, baik di dalam maupun luar negeri, blok ini mampu menahan beban hingga kurang lebih 19 ton,” ujarnya.
Karakteristik tersebut membuat produk ini dinilai cocok untuk pembangunan bangunan ringan seperti sekolah, rumah tinggal, maupun fasilitas sosial lainnya. Selain itu, penggunaan bahan baku plastik daur ulang juga dinilai dapat menjadi solusi pengurangan limbah plastik.
Dari sisi daya tahan, Jimmy menyebut blok plastik tersebut memiliki masa pakai cukup panjang. Berdasarkan hasil pengujian, material tersebut mampu bertahan hingga 13 tahun tanpa perlindungan tambahan.
Namun jika dilengkapi dengan perlindungan seperti pelapis atau finishing bangunan, masa pakainya dapat meningkat jauh lebih lama.
“Tanpa proteksi seperti plaster atau gypsum, secara pengujian bisa bertahan sekitar 13 tahun. Tetapi jika menggunakan perlindungan yang sesuai, bisa bertahan berpuluh-puluh tahun,” jelasnya.
Produk blok plastik ini juga telah menembus pasar internasional. Salah satu negara yang pernah mengimpor blok produksi Lombok adalah Arab Saudi. Di negara tersebut, blok plastik daur ulang digunakan untuk membangun hunian bertingkat dua.
Menurut Jimmy, respons pasar terhadap inovasi ini cukup positif karena dianggap sebagai terobosan baru dalam industri konstruksi.

“Arab Saudi melihat ini sebagai terobosan yang menarik karena menggunakan bahan bangunan alternatif dari plastik daur ulang,” katanya.
Secara global, teknologi blok plastik ini sebenarnya telah dikembangkan di beberapa negara lain. Pabrik pertama berada di Mesir, sementara sejumlah negara di Afrika juga mulai mengadopsi teknologi serupa. Saat ini, perusahaan juga tengah menjajaki peluang kerja sama dengan pasar Korea Selatan.
Di Indonesia, PT Block Solutions Indonesia memegang lisensi teknologi blok plastik yang dikembangkan oleh perusahaan asal Finlandia. Dengan lisensi tersebut, perusahaan berhak memproduksi dan mendistribusikan blok konstruksi tersebut di dalam negeri.
Saat ini kapasitas produksi pabrik di Lombok masih terbatas karena baru menggunakan satu mesin injeksi. Dalam sehari, perusahaan mampu memproduksi sekitar 250 hingga 270 blok.
Blok yang paling besar memiliki berat sekitar 38 kilogram dengan waktu produksi sekitar satu unit setiap 100 detik.
Sebagian besar penggunaan blok tersebut saat ini masih didominasi sektor pendidikan. Rata-rata setiap bulan material tersebut digunakan untuk pembangunan sekitar 10 ruang kelas baru.
“Banyak digunakan untuk membangun ruang sekolah. Rata-rata sekitar 10 ruang kelas setiap bulan,” ujar Jimmy.
Penggunaannya paling banyak ditemukan di wilayah Lombok, terutama Lombok Utara. Selain itu, sejumlah daerah di Sumatera seperti Riau, Bengkulu, dan Jambi juga mulai memanfaatkan material tersebut. Penggunaan serupa juga sudah ada di Bali, Nusa Tenggara Timur, dan beberapa wilayah di Pulau Jawa.
Ke depan, perusahaan berencana meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah mesin injeksi serta memperkuat rantai pasok bahan baku dari plastik daur ulang.
Jimmy berharap kehadiran industri ini juga dapat mendorong munculnya pelaku usaha baru yang memproduksi pelet plastik daur ulang sebagai bahan baku utama blok konstruksi tersebut.
Untuk membangun pabrik di Lombok, perusahaan menggelontorkan investasi sekitar tiga juta euro atau lebih dari Rp20 miliar. Dana investasi tersebut berasal dari investor asing, terutama dari Italia dan Finlandia.
“Kami mendapatkan kepercayaan dari investor luar negeri untuk membangun pabrik di Lombok. Mayoritas investor berasal dari Italia, sementara teknologi ini dikembangkan dari Finlandia,” katanya.
Menurut Jimmy, kepercayaan investor asing tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri inovasi konstruksi di Indonesia. Ia berharap teknologi bangunan dari plastik daur ulang ini dapat berkembang lebih luas sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan sektor konstruksi nasional.














