Program “Tai” Dr. Arus Kembali Bergerak, Limbah Disulap Jadi Pupuk dan Biogas

Program "Tai" Dr. Arus Kembali Bergerak, Limbah Disulap Jadi Pupuk dan Biogas

Mataram, Jurnalekbis.com – Di balik nama yang terdengar nyeleneh, Program “Tai” yang digagas pengusaha properti dan agro asal Kota Mataram, Dr. H. Ahmad Rusni, S.E., M.M., M.Pd. atau yang akrab disapa Dr. Arus, menyimpan konsep besar tentang pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, energi terbarukan, hingga peningkatan ekonomi masyarakat. Setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, program tersebut kini kembali disiapkan untuk diperluas ke berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dr. Arus mengatakan, gagasan itu lahir dari keprihatinannya terhadap masih banyaknya limbah organik, terutama kotoran ternak, yang dibiarkan menumpuk dan mencemari lingkungan. Menurutnya, limbah yang selama ini dianggap sebagai masalah justru memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat.

“Kami ingin membersihkan lingkungan sekaligus mengubah sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Arus di Mataram, Kamis (30/7/2026).

Melalui program tersebut, tim yang dibentuk sejak beberapa tahun lalu mendata sekaligus membeli kotoran ternak dari masyarakat. Limbah yang terkumpul kemudian diproses menjadi pupuk kompos dan biogas yang dapat dimanfaatkan kembali oleh warga.

Menurut Dr. Arus, konsep tersebut memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, masyarakat juga memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi.

Baca Juga :  PLN NTB Ajak Jurnalis Tinjau PLTS Sengkol 5,4 MWp, Dorong Kesadaran Publik soal Energi Hijau

“Kami tidak ingin masyarakat dirugikan. Kotoran yang dikumpulkan akan kami beli, kemudian diolah menjadi pupuk kompos ataupun biogas,” katanya.

Ia menjelaskan, pupuk organik yang dihasilkan diharapkan mampu memperbaiki kualitas lahan pertanian yang mulai mengalami penurunan kesuburan akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun.

“Tanah kita sudah mulai lelah karena terlalu lama bergantung pada pupuk kimia. Melalui pupuk organik ini kami ingin mengembalikan unsur hara tanah sehingga kembali subur dan produktif,” ujarnya.

Selain pupuk kompos, limbah organik juga diproyeksikan menjadi sumber energi alternatif melalui pengembangan biogas. Pemanfaatan energi tersebut dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan gas rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar berbasis fosil.

“Semua limbah ini bisa diolah menjadi biogas. Harapannya masyarakat memperoleh sumber energi yang lebih murah sekaligus ramah lingkungan,” jelasnya.

Program tersebut merupakan bagian dari gerakan UH ASIK (Usaha Harmoniskan Alam, Sehatkan Lingkungan, Ekonomi Kuat) yang diinisiasi Gerbang Umat. Konsepnya mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan pengembangan kawasan pertanian produktif berbasis pupuk organik.

Sejumlah wilayah telah menjadi lokasi percontohan, di antaranya Belanting di Kabupaten Lombok Timur dan Desa Sukadana di Kabupaten Lombok Utara. Di lokasi tersebut, pupuk organik dimanfaatkan untuk membudidayakan berbagai tanaman produktif, seperti buah naga, durian, manggis, alpukat, kelengkeng, jambu, serta jahe dengan sistem tumpangsari.

Baca Juga :  Warga NTB Dapat Diskon 50 Persen Tiket MotoGP Mandalika 2026, Ini Rinciannya

“Di beberapa lokasi hasilnya sudah mulai terlihat. Tanaman tumbuh dengan baik dan kualitas buah yang dihasilkan juga sangat bagus,” kata Dr. Arus.

Ke depan, ia berharap setiap desa yang memiliki populasi ternak mampu mengelola limbahnya secara mandiri. Kotoran ternak maupun limbah organik rumah tangga dikumpulkan di tempat pengolahan komunal, kemudian difermentasi menjadi pupuk kompos dan biogas yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

“Kami ingin tidak ada lagi dusun yang dipenuhi bau limbah. Semua bisa dimanfaatkan menjadi pupuk dan energi,” ujarnya.

Menurut Dr. Arus, pengelolaan limbah organik sejalan dengan arah pembangunan nasional, terutama dalam mendukung ketahanan pangan. Ia menilai keberhasilan sektor pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan menjaga kesuburan tanah, mengurangi limbah, dan memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Ia juga meyakini lingkungan yang bersih akan memperkuat daya saing sektor pariwisata NTB. Wisatawan, kata dia, tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga melihat komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga :  Program Makan Ikan Gratis Dorong Konsumsi Ikan di NTB

“Jangan sampai wisatawan datang menikmati keindahan daerah kita, tetapi terganggu oleh limbah yang tidak dikelola. Kami ingin membangun budaya baru bahwa limbah bukan lagi masalah, melainkan sumber manfaat,” tuturnya.

Melalui Program “Tai”, Dr. Arus berharap muncul perubahan cara pandang masyarakat terhadap limbah organik. Baginya, kotoran ternak dan limbah rumah tangga bukan sekadar sisa buangan, melainkan sumber pupuk, energi, dan peluang ekonomi yang dapat mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Mudah-mudahan masyarakat tidak lagi saling mengejek karena namanya, tetapi saling mengajak untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan membangun kesejahteraan,” demikian owner PT Dasar Group itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *