Mataram, Jurnalekbis.com — Wakil Ketua DPRD NTB, Lalu Wirajaya, mendesak Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah pengendalian harga setelah laju inflasi Nusa Tenggara Barat dua bulan berturut-turut melampaui angka nasional.
Menurut Wirajaya, tingginya inflasi akan langsung menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Kami berharap BI dan TPID segera melakukan upaya pengendalian yang terukur supaya inflasi di NTB tidak melampaui nasional. Kasihan masyarakat, karena beban kenaikan harga akan dirasakan langsung,” ujar Wirajaya, Selasa (28/4/2026).
Politisi Partai Gerindra itu menilai pengendalian inflasi tidak cukup hanya lewat rapat koordinasi, tetapi membutuhkan langkah nyata di lapangan, termasuk memperkuat distribusi pangan dan menjaga pasokan komoditas utama.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi tahunan NTB pada Maret 2026 mencapai 4,09 persen secara year on year (yoy), lebih tinggi dibanding nasional yang berada di angka 3,48 persen. Sebelumnya, pada Februari 2026, inflasi NTB juga tercatat lebih tinggi yakni 5,37 persen, sementara nasional sebesar 4,76 persen.
Kondisi tersebut menandakan tekanan harga di NTB masih cukup tinggi sejak awal tahun. Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi NTB pada Maret 2026 mencapai 0,81 persen.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di NTB antara lain emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, kubis, dan sigaret kretek mesin. Sedangkan untuk inflasi bulanan, cabai rawit, kubis, dan daging ayam ras menjadi pemicu utama kenaikan harga.
Wirajaya mengatakan NTB perlu belajar dari daerah lain yang dinilai berhasil menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
“Kita tidak perlu malu belajar dari daerah lain yang pengendalian inflasinya baik. Program-program yang berhasil bisa diadopsi dan disesuaikan dengan kondisi NTB,” katanya.
Ia juga menilai sejumlah program pengendalian inflasi yang pernah dijalankan sebelumnya masih relevan untuk diteruskan dan dikembangkan.
“Saya kira sudah ada program dari kepemimpinan sebelumnya yang bisa dicontoh. Pimpinan BI sekarang diharapkan bisa melanjutkan bahkan lebih kreatif lagi agar program pengendalian inflasi semakin efektif,” ujarnya.
Sejumlah program yang selama ini dijalankan TPID NTB di antaranya TANCABKAN GAS (Tanam Cabai Kendalikan Harga), operasi pasar murah, kerja sama antar daerah, pengembangan agribisnis terpadu, hingga gerakan menanam tanaman pangan cepat panen.
Meski inflasi tahunan masih tinggi, perkembangan harga pada akhir April mulai menunjukkan penurunan. Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan keempat April 2026 tercatat minus 1,81 persen. Penurunan dipengaruhi melemahnya harga cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi.
Dalam Laporan Perekonomian Provinsi NTB Februari 2026 yang dipublikasikan Bank Indonesia, tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut sepanjang tahun ini. Peningkatan permintaan pangan dan fluktuasi harga komoditas global disebut menjadi faktor utama yang berpotensi memicu kenaikan harga.
Meski begitu, BI bersama TPID optimistis inflasi NTB tetap dapat dikendalikan melalui penguatan sinergi dan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).














