NasionalNusantara

AHY Bongkar Biang Banjir Jabodetabek: Sungai Menyempit, Sampah Menggunung

×

AHY Bongkar Biang Banjir Jabodetabek: Sungai Menyempit, Sampah Menggunung

Sebarkan artikel ini
AHY Bongkar Biang Banjir Jabodetabek: Sungai Menyempit, Sampah Menggunung

Jakarta, Jurnalekbis.comBanjir di Jabodetabek disebut bukan lagi sekadar akibat hujan ekstrem. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, menyoroti kerusakan tata ruang, penyempitan sungai, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab utama bencana yang terus berulang.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, AHY, turun langsung memantau aksi Gerakan Bakti Sungai Nasional di Kali Ciliwung, kawasan Bidara Cina, Jakarta Timur, Minggu. Dalam kegiatan itu, AHY menegaskan persoalan banjir tidak bisa lagi ditangani secara parsial karena kondisi hulu hingga hilir saling terhubung.

“Kita ingin memastikan sungai-sungai di Indonesia, termasuk Ciliwung dan Cisadane, benar-benar menjadi sumber kehidupan,” kata AHY saat meninjau pembersihan sungai bersama komunitas lingkungan, pelajar, pemerintah daerah, dan Kementerian PUPR.

Baca Juga :  Panglima TNI dan Kapolri Terima 700 Unit Ransus Maung MV3 dari Kemhan RI

AHY mengatakan persoalan air bersih dan banjir merupakan dua masalah yang saling berkaitan. Pendangkalan sungai akibat sampah serta pencemaran air dinilai memperburuk kondisi lingkungan dan mengancam suplai air bersih masyarakat.

Menurutnya, kapasitas sungai di kawasan Jabodetabek saat ini sudah jauh dari ideal. Ia menyebut daya tampung aliran sungai yang saat ini hanya sekitar 200 meter kubik per detik harus ditingkatkan hingga mencapai 570 meter kubik per detik agar mampu mengurangi risiko banjir besar.

“Normalisasi sungai harus dilakukan. Jangan sampai terjadi pendangkalan. Lebarnya juga harus ditambah agar bisa mengakomodasi debit air yang lebih besar,” ujarnya.

AHY turut menyinggung pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti Bendungan Kering Ciawi dan Sukamahi yang dinilai penting untuk menahan limpahan air dari wilayah hulu. Namun ia mengingatkan pembangunan fisik tidak akan efektif tanpa pengawasan tata ruang yang ketat.

Baca Juga :  Apple Siap Investasi di Indonesia, Detail Resmi Diumumkan 7 Januari

Ia menilai maraknya penyalahgunaan lahan dan pelanggaran rencana tata ruang wilayah membuat daerah resapan air terus menyusut. Kondisi itu diperparah cuaca ekstrem yang menyebabkan air meluap ke permukiman warga.

“Ketika hujan ekstrem terjadi, air meluber dan menggenang. Itu yang akhirnya menjadi bencana bagi masyarakat di sekitar daerah aliran sungai,” katanya.

Tak hanya ancaman dari hulu, AHY juga mengingatkan kawasan pesisir utara Jakarta menghadapi tekanan akibat kenaikan muka air laut karena pemanasan global. Menurutnya, masyarakat Jabodetabek saat ini menghadapi ancaman ganda dari banjir kiriman dan rob.

Karena itu, pemerintah juga menyiapkan langkah perlindungan pantai di wilayah Pantura sebagai bagian dari strategi jangka panjang menghadapi perubahan iklim.

Baca Juga :  MGPA Pastikan Kesiapan Sirkuit Mandalika Gelar MotoGP 2023

Meski demikian, AHY menegaskan persoalan banjir tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Ia menyebut perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama agar persoalan lingkungan tidak terus berulang.

“Sehebat apa pun infrastrukturnya, kalau masyarakat masih membuang sampah ke sungai, masalah akan terus kembali,” tegasnya.

Ia meminta seluruh elemen masyarakat, mulai dari sekolah, komunitas lingkungan, akademisi, dunia usaha hingga media massa ikut membangun kesadaran menjaga sungai.

AHY juga mengajak masyarakat menjadikan gerakan bersih sungai sebagai budaya bersama demi menciptakan lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan nyaman dihuni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *