Mataram, Jurnalekbis.com — Ketidakpastian ekonomi global mulai mengubah pola investasi para pelaku usaha di Indonesia. Sejumlah investor kini cenderung meninggalkan pasar saham dan beralih ke sektor bisnis riil yang dianggap lebih aman serta memiliki kepastian keuntungan di tengah situasi ekonomi dunia yang sulit diprediksi.
Ketua Perempuan Indonesia Maju Provinsi NTB, Baiq Diyah Ratu Ganefi, mengatakan perubahan itu terjadi dalam dua hingga tiga tahun terakhir seiring meningkatnya gejolak ekonomi internasional. Fluktuasi dolar Amerika Serikat, pergerakan harga emas, hingga konflik geopolitik disebut menjadi faktor utama yang membuat investor lebih berhati-hati menempatkan modal.
“Kalau sekarang, banyak yang ingin kepastian. Jadi lebih memilih investasi di bisnis yang real,” kata Diyah kepada wartawan di Mataram, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurutnya, sebelum kondisi global memburuk, banyak investor termasuk kalangan perempuan pengusaha aktif bermain di pasar modal dengan memilih saham perusahaan yang memiliki prospek cerah dan fundamental kuat.
“Dulu kita juga main di saham-saham, kita lihat situasi ekonomi bagus, lalu kita pantau saham-saham yang bagus untuk diambil,” ujarnya.
Namun situasi kini berubah drastis. Diyah menilai pasar keuangan global menjadi semakin sensitif terhadap isu politik dan ekonomi internasional. Kondisi tersebut membuat arah investasi sulit diprediksi dalam jangka panjang.
Ia mencontohkan harga emas yang sempat melonjak tinggi dalam beberapa waktu terakhir, tetapi kemudian turun tajam hanya dalam hitungan singkat. Fenomena itu memperlihatkan tingginya volatilitas pasar yang berdampak langsung terhadap keputusan investor.
Selain faktor global, Diyah juga menyoroti banyaknya perusahaan besar yang mengalami penurunan kinerja hingga menutup usaha. Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran pelaku usaha terhadap risiko investasi di sektor non-riil.
“Kondisi sekarang tidak ada kepastian. Sewaktu-waktu bisa berubah karena perang, perizinan, dan berbagai faktor lainnya,” katanya.
Diyah mengungkapkan, sebagian investor mulai mengalihkan modal ke negara lain yang dinilai memiliki iklim usaha lebih stabil dan proses perizinan yang lebih mudah. Menurutnya, kondisi itu harus menjadi perhatian serius pemerintah jika ingin menjaga arus investasi tetap masuk ke Indonesia.
Ia menilai kepastian regulasi menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal. Tanpa jaminan stabilitas kebijakan, investor akan cenderung memilih negara yang menawarkan rasa aman bagi keberlangsungan usaha mereka.
Dalam situasi saat ini, sektor usaha riil seperti perdagangan, properti, kuliner, hingga industri berbasis kebutuhan masyarakat dinilai lebih menarik karena memberikan kontrol bisnis yang lebih jelas dibanding investasi berbasis spekulasi pasar.
Diyah berharap pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang memberi rasa aman kepada investor, baik dari sisi regulasi maupun kemudahan usaha. Dengan begitu, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar menjadi tujuan investasi di tengah tekanan ekonomi global.
“Investor sekarang mencari tempat yang memberi kepastian dan rasa aman untuk bisnis jangka panjang,” ujarnya.














