Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Program pembinaan berbasis pertanian di Lapas Kelas IIA Lombok Barat kembali menunjukkan hasil positif. Sebanyak 400 kilogram edamame hasil panen ketiga warga binaan langsung habis terjual sesaat setelah dipanen pada Selasa (1/7/2026). Tingginya permintaan pasar menjadi indikator bahwa komoditas tersebut mulai mendapat kepercayaan konsumen.
Keberhasilan penjualan seluruh hasil panen ini menjadi capaian penting bagi program pembinaan kemandirian yang dikembangkan di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Selain membekali warga binaan dengan keterampilan, program tersebut juga mampu menghasilkan produk pertanian yang memiliki nilai ekonomi.
Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, mengatakan hasil panen kali ini berasal dari lahan sekitar 5 are, yang merupakan bagian dari total area budidaya edamame seluas 0,9 hektare. Proses panen dilakukan secara bertahap karena tanaman masih akan dipanen dalam lima tahap berikutnya.
“Alhamdulillah, panen ketiga kembali membuahkan hasil yang sangat baik. Sebanyak 400 kilogram edamame langsung habis terjual. Ini menjadi bukti bahwa hasil budidaya warga binaan memiliki kualitas yang baik dan semakin dipercaya masyarakat. Kami optimistis target produksi 3 sampai 4 ton hingga akhir masa panen dapat tercapai,” ujar Fadli.
Target produksi tersebut dinilai realistis mengingat tanaman masih memasuki sebagian dari keseluruhan masa panen. Dengan sisa lima kali panen, total produksi diperkirakan mencapai 3 hingga 4 ton sampai akhir musim.
Program budidaya edamame menjadi salah satu bentuk pembinaan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi warga binaan. Melalui kegiatan pertanian, mereka tidak hanya menjalani aktivitas produktif selama menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh pengalaman praktis yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Fadli menegaskan, pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari perubahan kemampuan dan kesiapan warga binaan untuk hidup mandiri setelah bebas.
“Kami ingin warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh pengalaman dan keterampilan yang bernilai ekonomi. Harapannya, mereka memiliki bekal untuk memulai hidup yang lebih mandiri setelah bebas,” katanya.
Keberhasilan panen juga tidak lepas dari keterlibatan warga binaan bersama petugas dalam mengelola lahan pertanian secara berkelanjutan. Mulai dari proses penanaman, perawatan hingga panen dilakukan dengan pendampingan sehingga menghasilkan produk yang memenuhi standar kualitas.
Budidaya edamame di Lapas Lombok Barat merupakan bagian dari dukungan terhadap Program Ketahanan Pangan Nasional sekaligus implementasi 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Melalui pemanfaatan lahan produktif, lembaga pemasyarakatan didorong untuk menghasilkan komoditas yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus memperkuat pembinaan berbasis keterampilan.
Dengan tingginya minat pasar terhadap edamame hasil budidaya warga binaan, Lapas Kelas IIA Lombok Barat optimistis program tersebut dapat terus berkembang. Selain menjadi sumber pembelajaran bagi warga binaan, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pembinaan yang tepat mampu menghasilkan produk berkualitas serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.














