Mataram, Jurnalekbis.com — Pemilik Arianz Hotel Mataram, I Made Agus Ariana, meminta perhatian Presiden Prabowo Subianto terkait persoalan eksekusi hotel miliknya yang menurutnya telah menempatkan usaha dan keberlangsungan pekerja dalam kondisi sulit.
Made menyampaikan permintaan tersebut setelah mengaku telah berupaya mencari jalur pengaduan ke sejumlah lembaga. Namun, menurut dia, upaya tersebut belum menghasilkan penyelesaian yang diharapkan.
Ia menyebut pernah bersurat kepada DPR RI, tetapi tidak mendapat tanggapan. Sementara ketika menyampaikan persoalan tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ia mengaku mendapat penjelasan bahwa perkara yang dihadapinya bukan lagi menjadi ranah lembaga tersebut.
“Ke mana, ke siapa lagi saya akan mengadu?” kata Made.
Dalam pernyataannya, Made secara khusus meminta Presiden Prabowo turun melihat persoalan yang sedang dihadapinya. Ia menegaskan tidak meminta proyek maupun jabatan, melainkan keadilan.
“Mohon izin Pak Prabowo, ya, dua periode saya memilih Bapak. Saya tidak minta proyek, tidak minta jabatan. Saya hanya minta keadilan,” ujarnya.
Made juga mengaitkan permintaannya dengan latar belakang Prabowo sebagai pengusaha. Menurutnya, Presiden memahami persoalan ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil.
“Bapak harus melihat, Pak! Bapak adalah seorang pengusaha juga basic-nya. Bapak tahu bagaimana Bapak pernah diperlakukan tidak adil oleh rezim-rezim sebelumnya. Tolong saya, Pak Prabowo,” katanya.
Karyawan Arianz Hotel Dirumahkan Sejak Januari
Persoalan eksekusi hotel tersebut tidak hanya berdampak terhadap pemilik usaha. Made mengungkapkan, para pekerja Arianz Hotel telah dirumahkan sejak Januari.
Menurut dia, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari berhentinya aktivitas usaha di tengah persoalan yang sedang berlangsung.
“Untuk masalah karyawan, yang pasti dari bulan Januari itu sudah kita rumahkan semua, mereka juga sudah tahu,” ujar Made.
Ia mengatakan pekerja merupakan salah satu pihak yang paling awal merasakan manfaat ketika sebuah usaha berjalan. Karena itu, Made menilai keberlangsungan perusahaan dan kepastian pekerjaan karyawan memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan.
“Kami sebagai pengusaha malah kehilangan aset leluhur kami,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan besarnya persoalan yang dihadapi pihak hotel. Di satu sisi, pemilik berhadapan dengan proses eksekusi. Di sisi lain, operasional perusahaan berhenti dan pekerja harus dirumahkan.
Made juga menyinggung kondisi sejumlah hotel di Mataram yang menurutnya menghadapi berbagai persoalan. Namun, ia tidak merinci hotel maupun masalah yang dimaksud.
“Teman-teman hotel di Mataram ini banyak, gedungnya saja kelihatan megah. Banyak juga yang mengalami masalah-masalah yang mungkin belum ter-expose,” ujarnya.
Soroti Hubungan Pengusaha dan Pekerja
Dalam kesempatan tersebut, Made turut menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara perusahaan dan pekerja.
Ia meminta pekerja tidak hanya melihat persoalan dari sisi pemenuhan hak, tetapi juga mempertimbangkan kinerja yang menurutnya berpengaruh terhadap keberlangsungan perusahaan.
“Jangan hanya memikirkan hak-haknya, ya. Tapi kinerja kalian juga sangat berperan menyebabkan perusahaan,” kata Made.
Pernyataan Made terkait eksekusi Arianz Hotel dan dampaknya terhadap pekerja kini menjadi bagian dari persoalan yang ia berharap mendapat perhatian pemerintah pusat.
Ia menegaskan kembali bahwa yang dimintanya bukan jabatan maupun proyek, tetapi penyelesaian yang menurutnya memberikan rasa keadilan.
Permintaan kepada Presiden Prabowo tersebut menjadi langkah yang ditempuh Made setelah ia mengaku telah mencoba menyampaikan persoalan melalui sejumlah lembaga.
Hingga pernyataan tersebut disampaikan, Made berharap pemerintah dapat melihat langsung persoalan yang dihadapi Arianz Hotel Mataram, termasuk dampaknya terhadap aset usaha dan pekerja yang sejak Januari telah dirumahkan.













