Sade Terbakar, 75 Rumah dan 69 Artshop Ludes: Warga Ingin Bangun Kembali Kampung Sasak

Sade Terbakar, 75 Rumah dan 69 Artshop Ludes: Warga Ingin Bangun Kembali Kampung Sasak

Lombok Tengah, Jurnalekbis.com — Kebakaran besar melanda Desa Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, dan menghanguskan sedikitnya 75 rumah serta 69 artshop atau galeri milik warga. Kerugian sementara ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah, mencakup bangunan, barang dagangan, uang, hingga perhiasan.

Kebakaran ini menjadi pukulan berat bagi masyarakat Sade karena yang hilang bukan hanya tempat tinggal dan sumber pendapatan. Api juga melalap bagian dari kawasan permukiman tradisional Sasak yang selama puluhan tahun menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Lombok.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Adat Sade, Ardinata Sanah, mengatakan pendataan kerugian masih dilakukan. Nilai kerusakan meliputi rumah, artshop, serta berbagai barang berharga yang berada di dalam maupun sekitar bangunan.

“Total dari kerugian nilai bangunan dan nilai artshop itu sekitar puluhan miliar,” kata Ardinata, Minggu (23/8).

Sebanyak 75 rumah yang terbakar diketahui dihuni oleh satu kepala keluarga. Kobaran api juga menyebabkan sejumlah fasilitas tradisional terdampak, termasuk satu lumbung menara dan empat berugak sekenam.

Warisan Leluhur Ikut Terbakar

Besarnya kerusakan membuat dampak kebakaran tidak dapat dilihat hanya dari sisi ekonomi. Bagi masyarakat Sade, rumah tradisional merupakan bagian dari identitas dan warisan leluhur yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga :  Antisipasi Lonjakan Penumpang Mudik Lebaran, Gapasdap NTB Siapkan 27 Armada Kapal

Ardinata menyebut kawasan tersebut telah dipelihara masyarakat selama berabad-abad. Kebakaran kali ini menjadi peristiwa luar biasa karena api menghanguskan kawasan rumah dalam skala besar.

“Yang paling menyedihkan bagi kami adalah ini warisan leluhur yang kami jaga berabad-abad,” ujarnya.

Selain kehilangan tempat tinggal, warga juga kehilangan ruang usaha. Puluhan artshop yang menjadi tempat menjual kerajinan dan berbagai produk wisata ikut musnah.

Hingga Minggu (23/8), penyebab kebakaran belum diketahui. Masyarakat masih menunggu kepastian mengenai sumber api.

Warga Ingin Kembalikan Arsitektur Sasak

Di tengah kerugian besar, masyarakat Sade tidak ingin pemulihan hanya berorientasi pada pembangunan kembali rumah.

Mereka justru ingin menjadikan proses rekonstruksi sebagai kesempatan mengembalikan karakter asli permukiman tradisional Sasak.

Menurut Ardinata, sebagian bangunan di kawasan tersebut sebelumnya telah mengalami perubahan dengan penggunaan material modern, seperti semen dan kaca.

“Kami ingin membangun supaya betul-betul keasliannya. Kami ingin petik hikmah dari kejadian ini dan kembali ke konstruksi awal seperti tahun 90-an sebelumnya,” katanya.

Baca Juga :  Api Melalap Kampung Adat Sade, Warga Kehilangan Rumah dan Harta Benda

Keinginan tersebut membuat rekonstruksi Sade nantinya menghadapi tantangan ganda. Identitas arsitektur tradisional harus dipertahankan, tetapi aspek keselamatan juga tidak boleh diabaikan.

Kepadatan Kawasan Jadi Evaluasi

Kepadatan permukiman menjadi salah satu persoalan yang ingin dievaluasi masyarakat.

Dalam kawasan yang terdampak terdapat puluhan rumah dan artshop yang berdiri berdekatan. Aktivitas perdagangan juga membuat banyak meja, barang dagangan, serta berbagai pernak-pernik berada di sekitar bangunan.

Material tertentu, terutama barang berbahan plastik, berpotensi mempercepat penyebaran api.

Karena itu, masyarakat berencana meminta masukan pemerintah dan tenaga arsitektur untuk menyusun kembali kawasan Sade. Penataan diharapkan tetap mempertahankan karakter tradisional, tetapi memberikan ruang yang lebih aman untuk kondisi darurat.

Akses kendaraan pemadam, jalur evakuasi, serta pengaturan jarak dan kepadatan bangunan menjadi aspek yang dinilai penting dalam proses tersebut.

Pemerintah Dorong Gotong Royong

Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pariwisata, Zita Anjani, turut datang ke lokasi bersama sejumlah pihak, termasuk jajaran Kementerian Desa, perwakilan Bulog, pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, dan relawan.

Zita mengapresiasi masyarakat yang tetap menunjukkan semangat gotong royong setelah kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.

Baca Juga :  OJK NTB Terus Gencar Literasi Keuangan Hingga ke Desa

“Sama-sama semuanya, kita gotong royong untuk restorasi Desa Sade, kebanggaan kita,” ujar Zita.

Pemulihan kawasan kini tidak hanya menyangkut pembangunan fisik. Ada tiga kepentingan besar yang harus berjalan bersamaan: mengembalikan tempat tinggal warga, memulihkan aktivitas ekonomi, dan menjaga warisan budaya Sasak.

Kebakaran tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menata kembali Desa Adat Sade agar lebih siap menghadapi risiko kebakaran tanpa menghilangkan karakter tradisional yang menjadi kekuatan utama kawasan wisata itu.

Bagi masyarakat Sade, membangun kembali berarti lebih dari sekadar mendirikan rumah baru. Mereka ingin menghidupkan kembali kampung, membuka kembali ruang usaha, menerima wisatawan, sekaligus memastikan warisan leluhur tetap bertahan untuk generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *