Naskah Kuno Sasak Ikut Musnah dalam Kebakaran Rumah Adat Sade

Naskah Kuno Sasak Ikut Musnah dalam Kebakaran Rumah Adat Sade

LOMBOK TENGAH, Jurnalekbis.com — Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sasak Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya meninggalkan kerugian berupa rumah dan harta benda.

Api juga mengancam jejak sejarah masyarakat Sasak. Sejumlah naskah kuno yang selama ini digunakan dalam berbagai kegiatan adat ikut terbakar hingga kondisinya rusak dan tidak lagi dapat dibaca secara utuh.

Salah seorang warga, Jumain, mengatakan naskah yang berada di kawasan tersebut antara lain naskah lontar Rengganis dan naskah Jejawan, yang selama ini masih dibaca dalam kegiatan tertentu di lingkungan masyarakat.

“Namanya Rengganis. Naskah lontar Rengganis. Naskah Jejawan,” kata Jumain saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, naskah-naskah tersebut bukan sekadar benda lama. Keberadaannya berkaitan dengan tradisi masyarakat dan biasanya dibaca ketika berlangsung kegiatan adat.

Jumain menyebut pembacaan naskah dilakukan dalam sejumlah momentum, termasuk saat perkawinan maupun ketika masyarakat menjalankan prosesi adat tertentu.

“Kalau ada acara, misalnya perkawinan. Terus kalau ada anak, ada adat,” ujarnya.

Baca Juga :  Gubernur Eks NTB Diperiksa, Garda Satu Minta Publik Tunggu Fakta Hukum

Namun, kebakaran membuat kondisi naskah tersebut berubah drastis. Sebagian material yang terbakar disebut sudah tidak memungkinkan untuk dikembalikan seperti semula.

Ketika ditanya apakah naskah yang rusak masih dapat diselamatkan, Jumain menjawab singkat.

“Enggak bisa. Itu sudah rusak,” katanya.

Kerusakan tersebut menjadi persoalan tersendiri karena naskah kuno memiliki nilai yang berbeda dengan benda biasa. Selain bentuk fisiknya yang sulit digantikan, isi tulisan di dalamnya menyimpan pengetahuan, cerita, serta bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Jumain juga mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 10 bagian atau naskah yang berkaitan dengan koleksi tersebut dan muncul gagasan untuk menuliskannya kembali.

“Ada 10 anu… mau ditulis ulang,” ujarnya.

Upaya penulisan ulang menjadi salah satu jalan untuk menjaga isi pengetahuan yang masih dapat dikenali atau ditelusuri dari sumber lain. Namun, salinan baru tetap tidak sepenuhnya menggantikan naskah asli yang telah menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Sade.

Kehilangan itu memperlihatkan bahwa dampak kebakaran di kawasan adat tidak berhenti pada kerusakan bangunan. Ketika sebuah rumah adat terbakar, benda-benda yang berada di dalamnya ikut terancam, termasuk arsip keluarga, perlengkapan tradisional, serta peninggalan budaya yang mungkin tidak memiliki pengganti.

Baca Juga :  Viral Tawuran Pelajar di Lombok Tengah, Polisi Ungkap Penyebab Sebenarny

Bagi masyarakat Sasak, kondisi tersebut menjadi kehilangan yang jauh lebih besar daripada nilai material.

Naskah Jejawan dan lontar Rengganis, misalnya, memiliki keterkaitan dengan tradisi membaca teks dalam ruang sosial dan adat. Ketika bentuk fisiknya rusak, yang hilang bukan hanya lembaran atau media tulis, tetapi juga bagian dari warisan pengetahuan yang selama ini berada dekat dengan kehidupan masyarakat.

Karena itu, penanganan pascakebakaran di Sade tidak cukup hanya diarahkan pada pembangunan kembali rumah yang terbakar. Inventarisasi benda budaya yang terdampak juga penting dilakukan untuk mengetahui apa saja yang hilang, apa yang masih dapat diselamatkan, serta apa yang memungkinkan direkonstruksi berdasarkan sumber yang masih tersedia.

Keterangan warga mengenai naskah yang terbakar menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan dokumentasi yang lebih kuat. Naskah tradisional, terutama yang masih digunakan dalam kegiatan adat, idealnya tidak hanya disimpan secara fisik, tetapi juga didokumentasikan dalam bentuk digital dengan tetap memperhatikan aturan dan hak masyarakat adat.

Baca Juga :  PAN NTB Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Rumah Adat Sasak Sade

Kebakaran di Sade akhirnya meninggalkan persoalan berlapis: rumah yang harus dibangun kembali, harta benda yang hilang, dan warisan pengetahuan yang mungkin tidak dapat dipulihkan dalam bentuk aslinya.

Api dapat dipadamkan. Rumah bisa didirikan kembali. Namun, ketika naskah lama ikut musnah, sebagian jejak masa lalu masyarakat Sasak berpotensi hilang untuk selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *