PLN EPI Ubah Sampah Mataram Jadi Sumber Ekonomi

PLN EPI Ubah Sampah Mataram Jadi Sumber Ekonomi
PLN EPI Ubah Sampah Mataram Jadi Sumber Ekonomi

Mataram, Jurnalekbis.com — Persoalan sampah di Kota Mataram memasuki fase yang membutuhkan cara baru. Keterbatasan kapasitas pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok mendorong pemerintah dan masyarakat mencari pola pengelolaan yang tidak berhenti pada kegiatan mengambil dan membuang sampah.

Salah satu upaya tersebut hadir melalui pengembangan Maggot Center di Tanjung Karang Permai. Program yang melibatkan PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Pemerintah Kota Mataram, serta kelompok masyarakat itu mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.

Program tersebut juga menyasar kawasan wisata Pantai Viral di Bagek Kembar. Di lokasi itu terdapat 43 warung yang mulai memilah sampah sebelum dikumpulkan dan dibawa ke pusat pengolahan.

Ketua TPS3R Tanjung Karang Permai, Ridwan, mengatakan pengelolaan sampah dari kawasan tersebut kini mulai berjalan.

“Di sana kita ada 43 warung. Sampah yang ada di 43 warung itu kita sudah mulai pilah. Sampah organik, anorganik, yang bisa diurai sama maggot itu kita sudah pilah,” kata Ridwan, Kamis (10/9).

Menurut dia, petugas juga mulai mengambil sampah dari warung-warung tersebut. Sampah dari lingkungan sekitar dan sejumlah sumber lain kemudian masuk ke proses pemilahan di TPS3R.

Ridwan menyebut program tersebut tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan. Pengolahan sampah juga menciptakan sumber penghasilan baru bagi warga sekitar.

“Nilai ekonominya sangat luar biasa. Jadi sudah ada mata pencaharian baru untuk warga lingkungan Bagek Kembar khususnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Zankore Bidik AI Factory 1 GW, Indonesia Disiapkan Jadi Hub AI Asia-Pasifik

Saat ini, terdapat 10 orang pekerja yang terlibat dalam pengelolaan sampah di kawasan Pantai Viral dan telah memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut.

Pengelola juga menerima sampah organik dari sejumlah sumber lain, termasuk sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sekolah di sekitar kawasan.

Ridwan mengatakan masyarakat yang terlibat telah memperoleh pelatihan sebelum menjalankan pengelolaan Maggot Center.

“Sudah ada pelatihan dari PLN EPI. Sebelum ini kita ada pelatihan dulu baru kita mulai bergerak di Maggot Center,” katanya.

Kurangi Beban TPA Kebon Kongok

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram, Lalu Martawang, mengatakan persoalan sampah semakin penting karena kapasitas pembuangan ke TPA Kebon Kongok terbatas.

Menurut dia, Pemkot Mataram bahkan harus mengatur jumlah ritasi pengiriman sampah ke TPA tersebut.

“Sampah di Kota Mataram ini kita berada pada posisi keterbatasan kapasitas pembuangan ke TPA Kebon Kongok,” kata Martawang.

Kondisi itu membuat pemerintah perlu mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Salah satu caranya dengan mengubah pola pengelolaan dari sekadar mengambil dan membuang menjadi memilah, mengolah, lalu memanfaatkan kembali.

Martawang menilai keberadaan Maggot Center dapat membantu mengubah sampah organik menjadi komoditas produktif.

“Persoalan sampah tidak bisa dengan pola lama, ambil, proses, buang. Tetapi lebih dari itu sekarang, diambil, diproses, menjadi komoditas yang memiliki produktivitas,” ujarnya.

Baca Juga :  Ribuan Massa di Sumbawa Gelar Aksi Kutuk Kekejaman Israel kepada Palestina

Pola tersebut juga memungkinkan sampah plastik mendapat penanganan berbeda, sementara sisa makanan dapat masuk ke proses pengolahan menggunakan maggot.

Dikaitkan dengan Lombok Peaker

Keterlibatan PLN EPI dalam program tersebut juga berkaitan dengan rencana transisi energi di kawasan Lombok Pejanggik atau Lombok Peaker.

Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, mengatakan perusahaan ingin kehadirannya memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

PLN EPI memiliki rencana mengonversi pembangkit Lombok Peaker yang selama ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM) menjadi pembangkit berbasis gas.

“Memang rencananya kita akan ada proyek gasifikasi di Lombok Pejanggik, bagaimana pembangkit yang selama ini menggunakan BBM nanti akan menggunakan gas,” kata Erma.

Menurut Erma, ketika melakukan survei di sekitar lokasi, PLN EPI melihat persoalan sampah sebagai salah satu hal yang dapat mendapat intervensi melalui kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat.

Ia menegaskan pengelolaan sampah bukan hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.

“Masalah sampah ini ada di semua wilayah. Dengan berkembangnya masyarakat dan semakin banyaknya konsumsi, sampah ini menjadi sesuatu yang harus kita manage bersama,” ujarnya.

PLN EPI, kata Erma, memberikan dukungan mulai dari pembangunan lokasi, pelatihan hingga kerja sama dengan masyarakat. Tujuannya agar program tersebut tidak berhenti setelah pembangunan fasilitas selesai.

Baca Juga :  PLN EPI Siapkan Terminal LNG di Mataram, Warga Titip Syarat Perlindungan Nelayan dan Lingkungan

“Kita harapannya juga tidak hanya sekali membangun tapi selesai. Kita ingin ada kesinambungan dengan masyarakat sekitar,” katanya.

Martawang menambahkan, pengelolaan sampah juga akan berkaitan dengan penataan 43 pedagang kaki lima (PKL) di kawasan pesisir. Pemerintah akan mengatur penempatan mereka seiring rencana pengembangan infrastruktur dan operasional Lombok Peaker.

Bagi Pemkot Mataram, langkah tersebut memiliki dua kepentingan sekaligus: mengurangi tekanan terhadap TPA Kebon Kongok dan menciptakan aktivitas ekonomi baru di tengah masyarakat.

Sementara bagi warga, sampah yang sebelumnya hanya berakhir di tempat pembuangan kini mulai memiliki nilai. Dari warung makan, sekolah, hingga lingkungan permukiman, sampah dipilah untuk masuk ke rantai pengolahan yang dapat menghasilkan manfaat ekonomi.

Dengan pola itu, persoalan sampah di Mataram perlahan bergeser dari sekadar masalah kebersihan menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *