BisnisEkonomi

Harga Tiket Pesawat ke Nusa Tenggara Barat Melonjak, Astindo Khawatir Wisatawan Kabur

×

Harga Tiket Pesawat ke Nusa Tenggara Barat Melonjak, Astindo Khawatir Wisatawan Kabur

Sebarkan artikel ini
Harga Tiket Pesawat ke Nusa Tenggara Barat Melonjak, Astindo Khawatir Wisatawan Kabur

Mataram,Jurnalekbis.com – Kenaikan harga tiket pesawat menuju Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai mulai mengancam pertumbuhan sektor pariwisata. Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Astindo) NTB menyebut lonjakan harga tiket membuat biaya perjalanan ke Lombok dan daerah wisata lain di NTB semakin mahal, bahkan berpotensi mengurangi jumlah wisatawan.

Ketua Astindo NTB Sahlan M Saleh mengatakan komponen tiket pesawat kini menjadi beban terbesar dalam perjalanan wisata. Ia mencontohkan harga tiket penerbangan dari Lombok ke Jakarta yang sudah mencapai jutaan rupiah.

“Saya terakhir besok berangkat Jumat ke Jakarta, itu sudah Rp 3,7 juta. Komponen tiket ini menjadi komponen yang sangat besar terhadap pertumbuhan wisata,” kata Sahlan, Rabu (7/4).

Menurut Sahlan, kenaikan harga tiket pesawat tidak semata-mata disebabkan oleh naiknya harga avtur. Ia menilai ada banyak komponen biaya lain yang justru lebih besar dan dibebankan kepada masyarakat melalui harga tiket.

Baca Juga :  Yamaha Resmi Perkenalkan XMAX 125 2026: Skutik Premium Dengan Segudang Pembaruan

Ia menyebut kenaikan harga avtur saat ini memang cukup tinggi, bahkan mencapai sekitar 40 persen. Namun, menurutnya, avtur bukan satu-satunya faktor yang membuat tiket pesawat melambung.

“Kenaikan avtur sekarang 40 persen. Tetapi harus diingat, 60 persen itu adalah biaya-biaya lain. Terlalu banyak biaya,” ujarnya.

Sahlan merinci sejumlah komponen yang ikut membebani harga tiket, antara lain Passenger Service Charge (PSC) atau airport tax, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), biaya garbarata, landing fee, handling, hingga biaya parkir pesawat di bandara.

“Pajak tiket cukup besar. Lalu ada airport tax yang di beberapa daerah cukup tinggi, ada landing fee, parking, garbarata, handling, dan lain-lain. Semua biaya itu akhirnya dibebankan kepada pembeli tiket atau masyarakat,” katanya.

Karena itu, Astindo meminta pemerintah tidak hanya fokus menekan harga avtur, tetapi juga menurunkan berbagai pungutan dan biaya lain di sektor penerbangan.

“Kalau pemerintah ingin membantu masyarakat, maka komponen biaya yang begitu banyak ini dibantu dikurangi. Bila semua biaya-biaya ini dikurangi, saya yakin harga tiket akan turun meskipun avturnya naik,” tegas Sahlan.

Baca Juga :  Gubernur NTB Resmikan PLUT-KUMKM, Dorong UMKM Naik Kelas dan Berdaya Saing

Di tengah tingginya harga tiket pesawat, muncul usulan agar akses ke NTB diperkuat melalui transportasi laut. Namun, Sahlan menilai moda laut hanya bisa menjadi solusi untuk jarak dekat, seperti Bali-Lombok atau Surabaya-Lombok.

“Bali-Lombok masih visibel, Surabaya juga masih logis. Tetapi kalau Jakarta, Medan, Makassar atau kota besar lain harus lewat laut, itu tidak visibel dan tidak logis bagi wisatawan,” ujarnya.

Menurutnya, wisatawan masih dapat menerima perjalanan laut dari Bali ke Lombok karena jaraknya dekat. Namun, untuk wisatawan dari kota-kota besar di luar Jawa Timur dan Bali, pesawat tetap menjadi sarana utama menuju NTB.

Astindo khawatir mahalnya tiket pesawat akan memukul pasar wisatawan yang selama ini sedang dibangun, terutama dari luar negeri. Saat ini, Astindo NTB tengah berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan dari Singapura, Australia, Korea Selatan, dan China.

Baca Juga :  Didesak Untuk Mundur, LAZ Dirut PT. AMGM “Saya Fokus Bekerja”.

“Sekarang kami sedang berjuang menaikkan jumlah wisatawan, khususnya dari Singapura, Australia, Korea, dan China. Sedikit saja ada isu soal harga, dampaknya sangat besar bagi wisatawan,” kata Sahlan.

Ia mengaku perusahaannya sudah menerima pemesanan wisatawan asal China hingga Februari. Namun, Astindo mulai khawatir terhadap potensi penurunan pemesanan pada Mei dan Juni apabila harga tiket terus naik.

Selain harga tiket, situasi geopolitik global juga ikut memengaruhi minat wisatawan. Sahlan menyebut sudah ada sejumlah pembatalan perjalanan akibat kekhawatiran terhadap konflik internasional.

“Yang ada cancel karena adanya peperangan di sisi geopolitik. Perang Iran dengan Amerika dan Israel membuat mereka khawatir,” katanya.

Meski demikian, Astindo berupaya meredam isu tersebut agar tidak semakin memperburuk citra pariwisata NTB di mata wisatawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *