Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Ratusan siswa SMAN 1 Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang darurat setelah enam ruang kelas disegel akibat kondisi bangunan yang dinilai membahayakan. Demi menjaga keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik, aktivitas belajar dipindahkan ke sejumlah fasilitas sekolah, mulai dari kantin, musala, perpustakaan hingga ruang podcast.
Penyegelan dilakukan setelah hasil analisis teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan bangunan tersebut tidak lagi memenuhi standar keamanan dan tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai ruang belajar.
Enam ruang kelas yang ditutup berada di nomor 10 hingga 15. Seluruh ruangan dipasangi garis pembatas dan dikosongkan sejak Mei 2026 untuk menghindari potensi risiko terhadap siswa maupun guru selama proses pembelajaran berlangsung.
Tim Manajemen Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SMAN 1 Gunungsari, Fathul Warid, mengatakan keputusan mengosongkan gedung dilakukan berdasarkan rekomendasi resmi dari Dinas PUPR serta arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB.
“Karena kondisi gedung memang sudah tidak memungkinkan untuk ditempati berdasarkan analisa dan rekomendasi dari Dinas PUPR Provinsi NTB. Atas arahan Dinas Dikbud Provinsi NTB juga, gedung tersebut sudah tidak layak digunakan,” kata Fathul, Jumat (31/7).
Menurutnya, persoalan kerusakan bangunan sebenarnya telah terdeteksi sejak akhir 2025. Pada November tahun itu, tim Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melakukan peninjauan ke sekolah dan menetapkan gedung tersebut sebagai salah satu prioritas untuk direhabilitasi.
Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah mengajukan permohonan kepada Dinas PUPR NTB untuk melakukan analisis tingkat kerusakan. Hasil kajian menunjukkan kondisi struktur bangunan sudah tidak aman sehingga direkomendasikan segera dikosongkan.
“Rekomendasi PUPR menyatakan gedung ini sudah tidak layak ditempati. Sekretaris Dinas Dikbud juga pernah datang dan menyampaikan hal yang sama. Karena itu disarankan dikosongkan agar tidak menimbulkan bahaya saat proses pembelajaran berlangsung,” ujarnya.
Agar kegiatan belajar tidak terhenti, sekolah melakukan penataan ruang secara darurat. Satu rombongan belajar ditempatkan di aula kantin. Sebagian lainnya memanfaatkan area dekat musala yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan keagamaan. Ruangan tersebut kemudian disekat menggunakan tripleks agar dapat berfungsi sebagai kelas sementara.
Selain itu, dua rombongan belajar dipindahkan ke perpustakaan, sedangkan kelas lainnya menggunakan ruang podcast sekolah. Penyesuaian tersebut dilakukan supaya seluruh peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan meski dengan keterbatasan fasilitas.
Kondisi ruang belajar sementara tentu belum mampu memberikan kenyamanan seperti ruang kelas permanen. Luas ruangan yang terbatas, fasilitas seadanya, serta aktivitas belajar yang harus berbagi dengan fungsi ruangan lain menjadi tantangan yang dihadapi siswa dan guru setiap hari.
Meski demikian, proses pembelajaran tetap berlangsung tanpa menghentikan kegiatan akademik. Pihak sekolah berupaya menjaga kualitas layanan pendidikan sambil menunggu realisasi rehabilitasi gedung yang telah direkomendasikan pemerintah.
Fathul berharap pemerintah segera mempercepat pembangunan kembali enam ruang kelas tersebut agar proses belajar mengajar dapat berlangsung normal dan aman.
“Kami berharap pemerintah memberikan perhatian dan mempercepat rehabilitasi gedung agar kenyamanan belajar anak-anak dapat kembali seperti semula,” tuturnya.
Dengan jumlah ruang belajar yang berkurang drastis, percepatan rehabilitasi dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar ratusan siswa SMAN 1 Gunungsari dapat kembali belajar di ruang kelas yang aman, layak, dan nyaman.













