BeritaNewsNusantaraViral

Mi6 Tolak Bubarkan Kecimol: Kesenian Rakyat, Bukan Sarana Moralitas!

×

Mi6 Tolak Bubarkan Kecimol: Kesenian Rakyat, Bukan Sarana Moralitas!

Sebarkan artikel ini
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto

JE-Mataram – Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 lantang menolak rencana penertiban dan pembubaran kesenian musik tradisional Lombok, Kecimol. Polemik ini muncul pasca beredarnya video penari erotis di media sosial.

Beberapa daerah di Lombok tengah mengkaji regulasi untuk menertibkan, bahkan melarang Kecimol di jalanan. Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, tegas menentang rencana tersebut.

“Wacana pembubaran Kecimol dengan alasan kegaduhan dinilai berlebihan,” kata Didu, sapaan akrabnya, pada Kamis (6/6/2024). Menurutnya, Kecimol adalah kesenian rakyat yang dinikmati masyarakat bawah dan tidak adil jika dibubarkan.

Didu menegaskan, kegaduhan merupakan risiko dari hiburan jalanan, tak hanya Kecimol. Gendang Beleq dan Nyongkolan pun berpotensi menimbulkan kegaduhan. Justru, kata dia, mindset masyarakat sebagai penikmat seni yang perlu diubah, bukan keseniannya yang dihilangkan.

Baca Juga :  Bulog NTB Percepat Distribusi Bantuan Pangan Jelang Cuaca Ekstrem, Target Selesai Awal Desember

Terkait penari erotis di Kecimol, Didu menekankan bahwa Kecimol adalah kesenian kontemporer yang tidak bersentuhan dengan etika atau moral. Kesenian, baginya, adalah tentang estetika, bukan etika.

“Kesenian tidak bicara soal etika. Itu murni estetika, murni ekspresi,” ujarnya.

Didu mencontohkan olahraga renang wanita, lompat indah putri, lompat galah putri, dan voli pantai yang menampilkan atlet wanita berpakaian terbuka. Jika logika etika diterapkan, cabang-cabang olahraga ini pun harus dilarang.

“Kedewasaan masyarakat yang perlu diperbaiki. Mereka menikmati kesenian sebagai hiburan atau menikmati tontonan erotis,” jelas Didu.

“Sekali lagi, kesenian tidak berurusan dengan moral. Yang berurusan dengan moral itu agama. Kesenian bukan ranah etik tapi estetika. Kesalahan fatal jika kesenian dikaitkan dengan ranah etik. Mereka yang sering kaitkan kesenian dengan ranah etik itu tidak paham budaya. Kesenian murni ekspresi,” tegasnya.

Baca Juga :  Bengkel di Mataram Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Lebih lanjut, Didu menyinggung pelaku usaha Kecimol yang merupakan masyarakat kelas bawah tersisih secara sosial ekonomi. Menurutnya, pemerintah seharusnya mendukung mereka dengan melestarikan kesenian kontemporer ini.

Kecimol, kata Didu, adalah hiburan rakyat jelata yang dinikmati semua lapisan. Masyarakat pelosok yang minim hiburan, tentu sangat diuntungkan dengan kehadiran kesenian ini.

Terlebih, kesenian tradisional Lombok seperti Wayang Sasak dan penatah wayang nyaris punah karena minimnya bantuan pemerintah.

“Alih-alih membantu melestarikan kesenian, eh justru mau dibubarkan. Kok ruwet sekali,” tandas Didu.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Mataram resmi melarang Kecimol karena dinilai sering menampilkan penari erotis dan menyebabkan kemacetan. Larangan ini disusul daerah lain di Lombok yang mempertimbangkan regulasi serupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *