Mangupura, Jurnalekbis.com – Wahana permainan tradisional ayunan yang berada di Banjar , Alangkajeng, Mengwi, Badung, Bali, masih menjadi daya tarik saat momen libur galungan. Permainan berupa ayunan kayu ini diminati anak-anak karena menawarkan sensasi permainan yang menegangkan.
Menjelang sore hari pada hari Kamis sore (18/6/2026) kemarin atau umanis galungan, sehari setelah hari raya galungan, umat Hindu di Bali biasanya memanfaatkan momen untuk berkunjung ke sanak keluarga atau berekreasi ke tempat wisata. Salah satu wahana yang diminati saat libur galungan adalah wahana ayunan tradisional yang berada di Banjar Alangkajeng, Mengwi, Badung, Bali, lokasinya terletak tidak terlalu jauh dari obyek wisata taman ayun, wahana tersebut menawarkan sensasi yang berbeda yakni memacu adrenalin bagi anak-anak.
Wahana ayunan tradisional tersebut, jauh dari kesan wahana mewah yang ada pada umumnya, ayunan tradisional ini mirip dengan bianglala, namun bedanya memiliki diameter yang lebih kecil dan terbuat dari kayu. Pergerakannya pun tidak menggunakan mesin melainkan masih menggunakan tenaga manusia. Saat diputar lebih kencang, kursi ayunan akan mengayun sehingga memberikan nuansa menegangkan.
Setiap anak yang menikmati ayunan tradisional dilengkapi dengan perangkat pengaman berupa sabuk pengaman pada setiap kursi ayunan, sehingga para orang tua tidak perlu cemas untuk menjaga anak-anaknya menikmati ayunan tradisional tersebut.
Putu Bagian selaku pengelola ayunan tradisional mengatakan, hanya dengan membayar lima ribu rupiah saja anak-anak sudah bisa menikmati sensasi yang menegangkan selama lima kali putaran baik putaran kedepan maupun putaran kebelakang. Suara lonceng pendek sebagai penanda perubahan putaran dan suara lonceng panjang menandakan putaran berakhir.
“Wahana ini dibuka setiap hari raya galungan, kuningan, umanis nyepi dan tahun baru. Kebanyakan yang datang ke sini anak-anak daribdaerah sini dan dari luar daerah yang ada di Bali yang sedang berlibur ke obyek wisata taman ayun, per orang hanya dikenakan tiket lima ribu rupiah, dalam sehari di momen liburan bisa mencapai lima ratus orang datang untukenaikai wahana ayunan tradisional ini,” ucapnya.
I Kadek Gandhi salah seorang anak yang menikmati ayunan tradisional, menceritakan pengalaman pertamanya, ia merasa takut dan tegang.
“Ya, ini baru pertama kalinya naik ayunan tradisional, rasanya serem tegang campur aduk, gak mau naik lagi,” katanya.
Dengan adanya wahana ayunan tradisional ini, tentunya bisa membuat anak-anak sekarang untuk lebih mengenal wahana tradisional disamping berkembangnya permainan digital, yang lebih menonjol membuat anak-anak berinteraksi dengan lingkungannya dan budaya.(S.Hadi)














