BisnisEkonomi

Rupiah Melemah, Harga HP Android di NTB Melesat hingga 50 Persen

×

Rupiah Melemah, Harga HP Android di NTB Melesat hingga 50 Persen

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah, Harga HP Android di NTB Melesat hingga 50 Persen

Mataram, Jurnalekbis.com – Harga telepon genggam (HP) baru, khususnya perangkat Android, mengalami lonjakan signifikan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, kenaikan harga disebut telah mencapai 40 hingga 50 persen, memicu penurunan daya beli masyarakat dan berdampak langsung terhadap penjualan di tingkat ritel.

Ricky Hartono Putra, salah seorang penjual handphone di Mataram, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak pertengahan April 2026. Faktor utama pemicu lonjakan berasal dari naiknya harga komponen elektronik, terutama RAM, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Awal Mei kemarin harga naik karena komponen HP, terutama RAM. Kenaikannya sekitar 20 sampai 30 persen. Lalu akhir Mei ada kenaikan lagi karena pengaruh dolar dan melemahnya rupiah, sekitar 10 sampai 20 persen. Kalau dihitung rata-rata, HP Android sekarang naik 40 sampai 50 persen dibanding harga sebelumnya,” ujar Ricky, Rabu (3/6).

Baca Juga :  Rute Baru Wings Air: Ekspansi Udara Timur Indonesia

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi yang terburuk sepanjang dirinya menjalankan usaha penjualan ponsel.

“Ini mungkin rekor sepanjang sejarah saya buka toko HP. Belum pernah ada kenaikan sampai 40 sampai 50 persen seperti sekarang,” katanya.

Ricky menjelaskan, sebelum gelombang kenaikan terjadi, konsumen masih bisa mendapatkan ponsel baru dengan harga Rp1,1 juta hingga Rp1,2 juta. Kini, harga termurah yang tersedia di pasaran berada di kisaran Rp1,7 juta hingga Rp1,8 juta.

“Kalau dirupiahkan, kenaikannya sekitar Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per unit. Bahkan Senin kemarin ada penyesuaian harga lagi,” ungkapnya.

Ia menyebut harga perangkat Android telah mengalami tiga kali perubahan sejak April, yakni pada pertengahan April, awal Mei, dan akhir Mei.

Dampak kenaikan harga tersebut mulai terlihat pada perilaku konsumen. Banyak calon pembeli yang sebelumnya memiliki anggaran di bawah Rp1,5 juta kini harus menunda pembelian karena harga perangkat sudah melampaui kemampuan mereka.

Baca Juga :  Optimalkan Performa, PLN Gelar Upskilling Petugas Pelayanan Teknik

“Dari sisi jumlah penjualan pasti berkurang. Orang yang dulu cari HP di bawah Rp1,5 juta sekarang harus nabung lagi karena harga paling murah sudah Rp1,7 juta sampai Rp1,8 juta,” jelas Ricky.

Salah satu merek yang mengalami lonjakan harga cukup tinggi adalah Oppo. Menurut Ricky, produk yang sebelumnya dijual sekitar Rp1,5 juta kini sudah menyentuh angka Rp2,3 juta untuk varian termurah.

Akibat kondisi tersebut, volume penjualan disebut turun antara 30 hingga 40 persen. Meski demikian, dari sisi nilai transaksi atau omzet, penurunan tidak terlalu drastis karena harga jual yang lebih tinggi.

Tidak hanya perangkat ponsel, kenaikan juga terjadi pada sektor aksesori dan suku cadang elektronik. Produk seperti memori, flashdisk, hingga perlengkapan pendukung lainnya ikut terdampak.

Baca Juga :  Perintah Perbaikan Dilaksanakan, KPPU Hentikan Perkara Kemitraan

“Semua yang berhubungan dengan elektronik naik. Bahkan beberapa barang penunjang seperti tas HP yang biasanya Rp1.300 sampai Rp1.400 per unit sekarang hampir Rp2.000,” katanya.

Untuk mempertahankan penjualan, pelaku usaha mulai menerapkan berbagai strategi, mulai dari program bundling aksesori hingga skema cicilan dan kredit.

“Sekarang banyak konsumen yang dialihkan ke kredit karena uang tunainya tidak cukup. Jadi kami harus mencari strategi baru agar tetap bisa bertahan,” ujarnya.

Ricky berharap pemerintah dapat mengambil langkah yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah agar tekanan terhadap dunia usaha tidak semakin besar.

“Harapannya pemerintah lebih bijak dalam membuat kebijakan ekonomi. Kalau biaya usaha terus naik sementara daya beli turun, dampaknya bisa ke semua sektor, termasuk risiko pengurangan tenaga kerja,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *