Tabungan Rp100 Juta Amaq Wena Ludes Terbakar di Sade, Hanya Rp5 Juta yang Tersisa

Tabungan Rp100 Juta Amaq Wena Ludes Terbakar di Sade, Hanya Rp5 Juta yang Tersisa

Lombok Tengah, Jurnalekbis.com— Kebakaran yang melanda kawasan Rumah Adat Sasak Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, tidak hanya menghanguskan bangunan dan harta benda. Bagi Amaq Wena, warga lanjut usia berusia sekitar 70 tahun, musibah itu juga memusnahkan tabungan yang dikumpulkannya selama puluhan tahun.

Uang yang disimpan Amaq Wena sejak sekitar tahun 2000 ikut terbakar dalam peristiwa tersebut. Dari tabungan yang nilainya disebut mencapai lebih dari Rp100 juta, hanya sekitar Rp5 juta yang masih dapat diselamatkan untuk kemudian diperiksa dan ditukarkan.

Kisah pilu itu disampaikan Marwan, anak Amaq Wena. Menurutnya, sang ayah memang memiliki kebiasaan menyimpan uang sedikit demi sedikit dari hasil bekerja.

“Kalau ada uang segini disimpan langsung. Rp1.000, kalau ada yang nukar jadi besar, jadi Rp100.000, jadinya tabungan,” kata Marwan, Senin (24/8).

Tabungan tersebut bukan disiapkan untuk membeli barang mewah atau kebutuhan tertentu. Amaq Wena yang kini hidup sebagai seorang lanjut usia menyimpannya sebagai pegangan menghadapi masa tua.

“Istrinya sudah tidak ada. Siapa tahu besok sakit atau meninggal, itu tujuannya dia,” ujar Marwan.

Baca Juga :  Sinergi Pemprov NTB dan Pemkab Loteng, Perkuat Industri Agromaritim Unggulan

Disimpan dalam Kotak Kayu

Marwan menjelaskan, uang tersebut disimpan Amaq Wena secara mandiri dalam sebuah kotak kayu yang ditempatkan di dalam laci. Kotak itu memiliki kunci dan digunakan sebagai tempat menabung.

Setiap kali memperoleh uang, termasuk pecahan Rp100.000, sebagian disisihkan untuk dimasukkan ke dalam kotak tersebut.

Sumber uang berasal dari hasil pekerjaan Amaq Wena sebagai tukang jahit. Selain itu, ia juga masih aktif dalam kegiatan kesenian tradisional masyarakat Sasak.

Amaq Wena dikenal sebagai pelaku seni yang terlibat dalam kesenian Gendang Beleq. Ia juga kerap mengikuti kegiatan budaya seperti Peresean.

Tabungan yang dikumpulkannya selama lebih dari dua dekade akhirnya harus berakhir di tengah kobaran api.

Sempat Ingin Menyelamatkan Uang

Saat kebakaran terjadi, Amaq Wena sempat berada di sekitar lokasi. Namun, menurut Marwan, ia lebih dahulu berupaya menyelamatkan orang-orang yang berada di bagian atas rumah.

Api kemudian dengan cepat menjalar dan bahkan material yang terbakar terbawa angin hingga mengenai bagian rumah.

Ketika mengetahui uangnya berada di dalam rumah, Amaq Wena sempat ingin kembali mengambilnya.

Baca Juga :  Pesona Tari Kembang Sembah SMPN 15 Mataram Memukau Pembukaan Porwada NTB 2026

“Dia tetap ngotot, ‘apa ada uang, ada uang’. Dia mau mengejar uang itu lewat pintu,” tutur Marwan.

Namun, keluarga memilih mencegahnya kembali ke bangunan yang terbakar.

Bagi Marwan, keselamatan ayahnya jauh lebih penting dibandingkan uang yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun.

“Biarin uang itu. Yang penting dia selamat,” katanya.

Hanya Sebagian Kecil Bisa Diselamatkan

Dari uang yang disebut mencapai lebih dari Rp100 juta, hanya sebagian kecil yang masih ditemukan dalam kondisi memungkinkan untuk diperiksa. Nilainya diperkirakan sekitar Rp5 juta.

“Ratusan juta, cuma sisa yang bisa ditukarkan paling Rp5 juta. Yang lain sudah hangus jadi abu,” kata Marwan.

Uang yang tersisa kini dikumpulkan oleh keluarga. Mereka berencana membawa pecahan tersebut untuk diperiksa dan mengetahui apakah masih dapat ditukarkan.

Musibah itu menjadi pukulan berat bagi Amaq Wena. Sebab, uang tersebut bukan sekadar tabungan, melainkan hasil menyisihkan pendapatan sedikit demi sedikit selama puluhan tahun.

Marwan mengatakan, rencana awal tabungan itu memang untuk kebutuhan masa tua, termasuk jika suatu saat ayahnya membutuhkan biaya pengobatan maupun keperluan lain.

Baca Juga :  Reforma Agraria Bukan Karena Demo, Miq Iqbal Ungkap Alasan Sebenarnya

“Untuk kematian, dia kan orang tua. Untuk lain-lain,” ujarnya.

Kisah Amaq Wena memperlihatkan sisi lain dari kebakaran di Rumah Adat Sasak Sade. Di balik bangunan yang rusak, terdapat kehilangan yang tidak selalu terlihat: tabungan, hasil kerja bertahun-tahun, serta harapan warga lanjut usia untuk menjalani hari tua dengan sedikit rasa aman.

Kini, yang tersisa bagi Amaq Wena bukan lagi tumpukan uang yang dikumpulkan sejak 2000, melainkan beberapa lembar uang yang masih mungkin diselamatkan dan harapan untuk kembali menata kehidupan setelah kebakaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *