5 Agenda BRIN Usai Bertemu Presiden: Karhutla hingga Vaksin Malaria

5 Agenda BRIN Usai Bertemu Presiden: Karhutla hingga Vaksin Malaria
5 Agenda BRIN Usai Bertemu Presiden: Karhutla hingga Vaksin Malaria
Materi Iklan FINAL 2026

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki empat kandidat vaksin malaria yang sedang dikembangkan. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pemerintah meminta riset vaksin dipercepat hingga tiga tahun dari jadwal yang semestinya.

Arif menyampaikan hal tersebut setelah bertemu Presiden untuk melaporkan perkembangan sejumlah penugasan riset strategis, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pengembangan energi alternatif, kemandirian vaksin, obat herbal, hingga pengolahan sampah.

“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat 3 tahun lebih cepat dari seharusnya,” kata Arif.

Menurut dia, BRIN saat ini mengembangkan empat kandidat vaksin malaria. Secara nasional, terdapat sekitar lima hingga enam kandidat vaksin yang dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan dan Bio Farma.

Arif menyoroti tantangan malaria akibat parasit Plasmodium vivax. Dia mengatakan vaksin untuk jenis parasit tersebut belum tersedia dan berharap riset di Indonesia dapat berkontribusi terhadap penanganan malaria di tingkat global.

BRIN Kembangkan Prediksi Karhutla

Selain vaksin, Presiden meminta BRIN memperkuat riset untuk menangani karhutla dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Untuk penanganan jangka pendek, BRIN berkolaborasi dengan BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI AU dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tim BRIN juga terlibat dalam operasi menggunakan dry ice untuk mendukung upaya tersebut.

Arif menjelaskan, BRIN juga mengembangkan model perambatan api dan memperkuat kemampuan prediksi kebakaran hutan. Riset ini diharapkan mampu memperkirakan potensi karhutla hingga tiga sampai enam bulan ke depan.

BRIN turut memanfaatkan citra satelit untuk mendeteksi titik api setiap hari. Informasi tersebut kemudian dibagikan kepada lembaga terkait sebagai bahan pemantauan dan penanganan kebakaran.

Dalam upaya pemadaman, BRIN juga menyiapkan teknologi berbahan dasar singkong yang dicampur material APP. Menurut Arif, campuran tersebut diperlukan agar tepung singkong tidak menggumpal dan dapat meningkatkan efektivitas pemadaman api.

Limbah Sawit Berpotensi Hasilkan Listrik 3,9 Gigawatt

Di sektor energi, Arif mengungkap potensi pemanfaatan limbah industri kelapa sawit menjadi biogas. BRIN memperkirakan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) mencapai 229,9 juta meter kubik per tahun.

Jika dikombinasikan dengan pemanfaatan tandan kosong sawit, potensi energi yang dapat dikonversi menjadi listrik diperkirakan mencapai 3,9 gigawatt.

BRIN juga memperkenalkan teknologi Metal-Organic Framework (MOF), yaitu material yang dapat menyimpan gas dalam jumlah lebih besar. Teknologi ini berpotensi mendukung pengembangan biogas menjadi bahan bakar dalam tabung.

Arif menilai pemanfaatan limbah sawit dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor sekaligus menekan emisi metana dari limbah industri.

Materi Iklan FINAL 2026

BRIN Siapkan 19 Kandidat Obat Herbal

Agenda berikutnya adalah mempercepat pengembangan obat herbal. BRIN memiliki 19 kandidat obat herbal yang ditargetkan menuju kategori fitofarmaka.

Untuk mencapai tahap tersebut, kandidat obat perlu menjalani serangkaian pengujian, termasuk uji klinis. BRIN akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM untuk mempercepat prosesnya.

Sementara itu, dalam penanganan sampah, BRIN akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta perguruan tinggi untuk menerapkan teknologi pengolahan sampah di desa.

Arif mengatakan BRIN telah mengembangkan prototipe teknologi untuk skala rumah tangga hingga perkotaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Berbagai agenda ini menunjukkan fokus BRIN dalam mendorong riset yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi menghasilkan solusi untuk persoalan lingkungan, kesehatan, dan ketahanan energi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *