BisnisWisata

Senggigi Kian Sepi, Pengusaha Hiburan Bongkar Penyebabnya

×

Senggigi Kian Sepi, Pengusaha Hiburan Bongkar Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Senggigi Kian Sepi, Pengusaha Hiburan Bongkar Penyebabnya

Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Senggigi yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ikon pariwisata Pulau Lombok kini menghadapi tantangan serius. Lesunya aktivitas wisata berdampak langsung terhadap sektor hiburan malam yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi kawasan wisata tersebut.

Ketua Asosiasi Hiburan Senggigi, Suhermanto, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah tempat hiburan yang masih bertahan di Senggigi diperkirakan hanya sekitar 15 usaha. Sejumlah pelaku usaha bahkan memilih mundur akibat kondisi pasar yang terus melemah dalam beberapa tahun terakhir.

“Yang bertahan mungkin sekitar 15-an tempat. Beberapa sudah tutup, ada yang berganti pemilik karena sulit bertahan,” kata Suhermanto saat berbincang mengenai kondisi terkini pariwisata Senggigi.

Menurutnya, sepinya usaha hiburan tidak hanya dipicu oleh berkurangnya kunjungan wisatawan, tetapi juga munculnya banyak tempat usaha baru yang dinilai tidak sepenuhnya menjalankan aturan sebagaimana mestinya.

Ia menilai pemerintah sebenarnya telah berupaya melakukan penertiban terhadap usaha yang tidak sesuai ketentuan. Namun, fenomena tersebut kerap berulang.

“Pemerintah sudah berusaha menertibkan mana yang legal dan mana yang ilegal. Tapi seperti buka tutup. Ditindak sekarang, seminggu kemudian ramai lagi. Yang jelas ada oknum-oknum yang bermain di belakang itu,” ujarnya.

Usaha Legal Tertekan

Suhermanto menjelaskan, pelaku usaha hiburan yang beroperasi secara resmi harus memenuhi berbagai kewajiban mulai dari pembayaran pajak hingga perizinan yang lengkap. Di sisi lain, munculnya usaha serupa yang tidak menjalankan standar yang sama membuat persaingan menjadi tidak seimbang.

Baca Juga :  PLN Sukses Hadirkan Listrik Tanpa Kedip pada Seri Perdana MXGP Lombok

Ia menyebut tren bisnis kafe yang berkembang pesat di Kota Mataram dan Lombok Barat turut mengubah peta persaingan. Tempat hiburan dan kafe kini bermunculan hampir di setiap sudut wilayah perkotaan.

“Kafe sekarang sudah menjadi lifestyle. Mereka bisa buka di mana saja. Banyak berserakan di jalan-jalan dan sudut kota. Ini yang membuat persaingan semakin berat,” katanya.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pelaku usaha lama di Senggigi kesulitan menarik pengunjung. Beberapa tempat hiburan yang sebelumnya cukup dikenal bahkan harus menghentikan operasional atau berganti pemilik.

Suhermanto mencontohkan sejumlah lokasi yang mengalami pergantian manajemen karena pemilik lama memilih mundur. Menurutnya, investor baru yang masuk masih membutuhkan waktu untuk memahami kondisi pasar pariwisata Senggigi yang sesungguhnya.

Wisatawan Belum Tertarik Tinggal Lama

Selain persoalan persaingan usaha, Suhermanto menilai tantangan terbesar Senggigi saat ini adalah belum maksimalnya daya tarik kawasan untuk membuat wisatawan bertahan lebih lama.

Menurutnya, banyak wisatawan datang ke Lombok namun tidak memilih menginap atau menghabiskan waktu lebih lama di Senggigi.

“Di samping wisatawan yang memang belum sepenuhnya tertarik tinggal di Senggigi, akses dan konektivitas kawasan wisata juga perlu diperkuat,” ujarnya.

Ia menyoroti pentingnya pembukaan akses yang lebih baik antara Senggigi dan kawasan Pusuk Lestari. Jalur tersebut dinilai mampu menghubungkan berbagai destinasi wisata unggulan di Lombok Barat sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas.

Suhermanto menilai selama ini potensi wisata seperti Monkey Forest, Pura Batu Bolong, hingga Taman Wisata Alam Kerandangan belum dikelola secara maksimal sebagai satu paket destinasi yang terintegrasi.

Baca Juga :  Twitter Luncurkan Layanan Berbayar untuk Akun Terverifikasi

Padahal, menurutnya, kawasan tersebut memiliki daya tarik besar bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Keluhan Knalpot Brong Ganggu Wisata

Masalah lain yang ikut memengaruhi kenyamanan wisatawan adalah maraknya kendaraan dengan knalpot bising yang melintas di jalur utama Senggigi.

Suhermanto mengaku keluhan tersebut sudah berulang kali disampaikan oleh pelaku usaha hotel, restoran, maupun tempat hiburan.

Ia menjelaskan karakter jalan raya Senggigi yang lurus sering dimanfaatkan sejumlah pengendara untuk memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.

“Orang sedang berbicara atau menikmati suasana, tiba-tiba suara motor sangat keras lewat. Itu sering dikeluhkan,” katanya.

Karena itu, ia berharap pemerintah bersama instansi terkait dapat memasang rambu pembatas kecepatan maksimal di sepanjang jalan raya Senggigi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan suasana wisata yang lebih nyaman.

Selain itu, kegiatan komunitas kendaraan bermotor yang melibatkan konvoi besar juga diharapkan dapat diarahkan melalui jalur alternatif menuju kawasan wisata lain sehingga tidak mengganggu aktivitas wisata malam di Senggigi.

Tempat Hiburan Disebut Jadi Urat Nadi Senggigi

Di tengah berbagai tantangan yang ada, Suhermanto menegaskan bahwa sektor hiburan tetap memiliki peran penting dalam menjaga denyut pariwisata Senggigi.

Menurutnya, banyak wisatawan asing datang tidak hanya untuk menikmati pantai dan pemandangan alam, tetapi juga mencari hiburan, interaksi sosial, dan pengalaman budaya saat malam hari.

“Tempat hiburan itu urat nadinya Senggigi,” tegasnya.

Baca Juga :  OJK: Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga, 951 Pinjol Ilegal Diblokir Awal 2026

Ia mengungkapkan banyak wisatawan mancanegara yang datang hanya untuk bernyanyi, menikmati suasana, atau berinteraksi dengan sesama pelancong. Aktivitas tersebut secara tidak langsung membuat wisatawan betah tinggal lebih lama di kawasan wisata.

Bahkan, menurut cerita yang berkembang di kalangan pelaku pariwisata, tidak sedikit wisatawan yang menemukan pasangan hidup saat berkunjung ke Senggigi dan akhirnya memiliki hubungan jangka panjang dengan Indonesia.

Harapan kepada Pemerintah Daerah

Meski kondisi saat ini belum ideal, Suhermanto mengaku masih optimistis terhadap masa depan Senggigi. Ia menilai Pemerintah Kabupaten Lombok Barat mulai menunjukkan perhatian terhadap kawasan wisata yang sempat menjadi primadona pariwisata NTB tersebut.

Beberapa program seperti pembangunan jogging track, penataan kawasan, hingga upaya menarik investor baru dinilai menjadi langkah positif.

Namun demikian, tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah meyakinkan investor bahwa investasi di Senggigi memiliki prospek yang menjanjikan dalam jangka panjang.

Menurutnya, banyak calon investor masih mempertanyakan kepastian pengembalian modal di tengah kondisi pariwisata yang belum sepenuhnya pulih.

“Kami tetap optimistis. Yang dibutuhkan sekarang adalah percepatan konektivitas, penataan kawasan, dan dukungan agar wisatawan mau tinggal lebih lama di Senggigi,” pungkasnya.

Lesunya sektor hiburan menjadi cerminan tantangan yang sedang dihadapi Senggigi. Jika persoalan akses, kenyamanan wisata, dan penataan usaha dapat dibenahi secara konsisten, kawasan wisata legendaris di pesisir barat Lombok itu diyakini masih memiliki peluang besar untuk kembali menjadi magnet utama pariwisata NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *